Header Ads

toko buku islam
Tampilkan postingan dengan label Aqidah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Aqidah. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 08 Oktober 2016

Non Muslim itu Kafir


Kafir adalah orang yang beragama selain Islam. Inilah yang ditegaskan oleh syariat. Meski kelihatan sepele tetapi pemahaman dimasyarakat berbeda-beda. Semoga tulisan ini bisa memperjelas. (Adm)

Non Muslim itu Kafir


Muhammad Abduh Tuasikal, MSc


Selain Islam itu kafir. 


Ini prinsip akidah yang mesti dipahami oleh setiap muslim. Banyak ayat Al Quran yang membuktikan pernyataan di atas. Allah Ta’ala berfirman,

لَمْ يَكُنِ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ وَالْمُشْرِكِينَ مُنْفَكِّينَ حَتَّى تَأْتِيَهُمُ الْبَيِّنَةُ

“Orang-orang kafir yakni ahli Kitab dan orang-orang musyrik (mengatakan bahwa mereka) tidak akan meninggalkan (agamanya) sebelum datang kepada mereka bukti yang nyata.” (QS. Al Bayyinah: 1).

Begitu pula Allah Ta’ala berfirman,

إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ وَالْمُشْرِكِينَ فِي نَارِ جَهَنَّمَ خَالِدِينَ فِيهَا أُولَئِكَ هُمْ شَرُّ الْبَرِيَّةِ

“Sesungguhnya orang-orang yang kafir yakni ahli Kitab dan orang-orang yang musyrik (akan masuk) ke neraka Jahannam; mereka kekal di dalamnya. Mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk.” (QS. Al Bayyinah: 6).

Syaikh As Sa’di menyatakan, “Mereka dikatakan sejelek-jelek makhluk karena mereka mengetahui kebenaran namun mereka meninggalkannya. Akhirnya mereka menuai kerugian di dunia dan akhirat.” (Taisir Al Karimir Rahman, hal. 932).

Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin menuturkan, “Orang Yahudi, Nashrani, dan kaum musyrikin adalah sejelek-jelek makhluk. Ini juga yang disebutkan dalam ayat lainnya,

إِنَّ شَرَّ الدَّوَابِّ عِنْدَ اللَّهِ الَّذِينَ كَفَرُوا فَهُمْ لَا يُؤْمِنُونَ

“Sesungguhnya binatang (makhluk) yang paling buruk di sisi Allah ialah orang-orang yang kafir, karena mereka itu tidak beriman.” (QS. Al Anfal: 55).

Dalam ayat lainnya disebutkan pula,

إِنَّ شَرَّ الدَّوَابِّ عِنْدَ اللَّهِ الصُّمُّ الْبُكْمُ الَّذِينَ لَا يَعْقِلُونَ (22) وَلَوْ عَلِمَ اللَّهُ فِيهِمْ خَيْرًا لَأَسْمَعَهُمْ وَلَوْ أَسْمَعَهُمْ لَتَوَلَّوْا وَهُمْ مُعْرِضُونَ (23)

“Sesungguhnya binatang (makhluk) yang seburuk-buruknya pada sisi Allah ialah; orang-orang yang pekak dan tuli yang tidak mengerti apa-apapun. Kalau sekiranya Allah mengetahui kebaikan ada pada mereka, tentulah Allah menjadikan mereka dapat mendengar. Dan jikalau Allah menjadikan mereka dapat mendengar, niscaya mereka pasti berpaling juga, sedang mereka memalingkan diri (dari apa yang mereka dengar itu). ” (QS. Al Anfal: 22-23).” (Tafsir Juz ‘Amma, hal. 283-284).

Al Qur’an itulah yang jadi peringatan bagi orang-orang kafir. Allah Ta’ala juga berfirman,

وَأُوحِيَ إِلَيَّ هَذَا الْقُرْآنُ لِأُنْذِرَكُمْ بِهِ وَمَنْ بَلَغَ

“Dan Al Quran ini diwahyukan kepadaku supaya dengan dia aku memberi peringatan kepadamu dan kepada orang-orang yang sampai Al-Quran (kepadanya).” (QS. Al An’am: 19)

هَذَا بَلَاغٌ لِلنَّاسِ وَلِيُنْذَرُوا بِهِ

“(Al Quran) ini adalah penjelasan yang sempurna bagi manusia, dan supaya mereka diberi peringatan dengan-Nya.” (QS. Ibrahim: 52)

Ada sebuah riwayat dalam shahih Muslim, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَالَّذِى نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لاَ يَسْمَعُ بِى أَحَدٌ مِنْ هَذِهِ الأُمَّةِ يَهُودِىٌّ وَلاَ نَصْرَانِىٌّ ثُمَّ يَمُوتُ وَلَمْ يُؤْمِنْ بِالَّذِى أُرْسِلْتُ بِهِ إِلاَّ كَانَ مِنْ أَصْحَابِ النَّارِ

“Demi jiwa Muhammad yang berada di tangan-Nya. Tidak ada seorang pun dari umat ini (yaitu Yahudi dan Nashrani), lalu ia mati dalam keadaan tidak beriman pada wahyu yang aku diutus dengannya, kecuali ia pasti termasuk penduduk neraka.” (HR. Muslim dalam Al Iman 153, Musnad Ahmad bin Hambal 2: 317)

Oleh karena itu, siapa saja yang tidak mengkafirkan Yahudi dan Nashrani, maka ia juga ikut kafir. Hal ini berdasarkan kaedah yang sudah digariskan para ulama,

مَنْ لَمْ يَكْفُر الكَافِرَ بَعْدَ إِقَامَةِ الحُجَّةِ عَلَيْهِ فَهُوَ كَافِرٌ

“Barangsiapa yang tidak mengkafirkan orang kafir setelah ditegakkan hujjah (penjelasan) baginya, maka ia kafir.”

Hanya Allah yang memberi taufik.



Selesai disusun di pagi hari penuh berkah di Darush Sholihin, 19 Dzulhijjah 1435 H

Akhukum fillah: Muhammad Abduh Tuasikal

Sumber:
rumaysho.com

Seseorang Bersama Yang Dicintai Dan Diidolakannya


Mencintai adalah tabiat manusia. Apalagi terhadap orang yang diidolakannya. Akantetapi sadarkah kita bahwa cinta itu akan kita bawa hingga hari kiamat? Berikut tulisan menarik tentang cinta dan idola..(Adm)


Seseorang Bersama Yang Dicintai Diidolakannya


Hati-hati Mengidolakan Seseorang!!!
Karena Seseorang akan Bersama Orang yang dicintai dan diidolakannya


ﺑﺴﻢ ﺍﻟﻠﻪ ﺍﻟﺮﺣﻤﻦ ﺍﻟﺮﺣﻴﻢ , ﺍﻟﺤﻤﺪ ﻟﻠﻪ ﺭﺏ ﺍﻟﻌﺎﻟﻤﻴﻦ ﻭﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻭﺑﺎﺭﻙ ﻋﻠﻰ ﻧﺒﻴﻨﺎ ﻣﺤﻤﺪ ﻭﺁﻟﻪ ﻭﺻﺤﺒﻪ ﺃﺟﻤﻌﻴﻦ , ﺃﻣﺎ ﺑﻌﺪ :

Semakin banyaknya kaum muslim mengidolakan seorang yang sebenarnya tidak pantas untuk diidolakan, baik karena akidahnya yang buruk yang dipenuhi dengan syirik, ibadahnya yang buruk yang dipenuhi dengan bid’ah, pergaulannya yang buruk atau tingkahlakunya yang buruk.
Kalau bukan karena peran media massa-lah seorang yang sebenarnya buruk ini dan tidak pantas menjadi idola inilah akhirnya diidolakan orang banyak!!!

Tulisan singkat di bawah ini, ingin menjelaskan sedikit sebenarnya siapakah yang berhak diidolakan dan siapakah yang tidak pantas untuk diidolakan.

Kawan pembaca, ketauhilah, semoga Allah merahmati kita…
Sang Idola dan Panutan yang bebas dari segala keburukan dan kekejian

} ﻗَﺪْ ﻛَﺎﻥَ ﻟَﻜُﻢْ ﻓِﻲ ﺭَﺳُﻮﻝِ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺃُﺳْﻮَﺓٌ ﺣَﺴَﻨَﺔٌ ﻟِﻤَﻦْ ﻛَﺎﻥَ ﻳَﺮْﺟُﻮ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﻭَﺍﻟْﻴَﻮْﻡَ ﺍﻟْﺂﺧِﺮَ ﻭَﺫَﻛَﺮَ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﻛَﺜِﻴﺮًﺍ { ‏[ ﺍﻷﺣﺰﺍﺏ 21 : ‏]

Artinya: “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” QS. Al Ahzab: 21.

Kenapa beliau idola tanpa cacat?


Jawabannya:

ﻋَﻦْ ﺳَﻌْﺪِ ﺑْﻦِ ﻫِﺸَﺎﻡِ ﺑْﻦِ ﻋَﺎﻣِﺮٍ ﻗَﺎﻝَ ﺃَﺗَﻴْﺖُ ﻋَﺎﺋِﺸَﺔَ ﻓَﻘُﻠْﺖُ ﻳَﺎ ﺃُﻡَّ ﺍﻟْﻤُﺆْﻣِﻨِﻴﻦَ ﺃَﺧْﺒِﺮِﻳﻨِﻰ ﺑِﺨُﻠُﻖِ ﺭَﺳُﻮﻝِ ﺍﻟﻠَّﻪِ - ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ .- ﻗَﺎﻟَﺖْ ﻛَﺎﻥَ ﺧُﻠُﻘُﻪُ ﺍﻟْﻘُﺮْﺁﻥَ ﺃَﻣَﺎ ﺗَﻘْﺮَﺃُ ﺍﻟْﻘُﺮْﺁﻥَ ﻗَﻮْﻝَ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﻋَﺰَّ ﻭَﺟَﻞَّ ‏( ﻭَﺇِﻧَّﻚَ ﻟَﻌَﻠَﻰ ﺧُﻠُﻖٍ ﻋَﻈِﻴﻢٍ ‏)

Artinya: “Sa’ad bin Hisyam bin Amir berkata: “Aku pernah mendatangi Aisyah radhiyallahu ‘anha, lalu aku bertanya: “ Wahai Ummul Mukminin, beritahukanlah kepadaku akan akhlaknya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam?”, beliau menjawab: “Akhlak beliau adalah Al Quran, apakah kamu tidak membaca Al Quran, Firman Allah Azza wa Jalla: ( ﻭَﺇِﻧَّﻚَ ﻟَﻌَﻠَﻰ ﺧُﻠُﻖٍ ﻋَﻈِﻴﻢٍ ) dan sesungguhnya engkau di atas budi pekerti yang agung.” HR. Ahmad dan dishahihkan oleh Al Albani di dalam kitab Shahih Al Jami’, no. 4811.

Makna “Akhlak beliau Al Quran ”


Berkata Ibnu Rajab rahimahullah :

ﺗﻌﻨﻲ : ﺃﻧَّﻪ ﻛﺎﻥ ﺗﺄﺩَّﺏ ﺑﺂﺩﺍﺑﻪ ، ﻭﺗﺨﻠَّﻖ ﺑﺄﺧﻼﻗﻪ ، ﻓﻤﺎ ﻣﺪﺣﻪ ﺍﻟﻘﺮﺁﻥ ، ﻛﺎﻥ ﻓﻴﻪ ﺭﺿﺎﻩ ، ﻭﻣﺎ ﺫﻣﻪ ﺍﻟﻘﺮﺁﻥُ ، ﻛﺎﻥ ﻓﻴﻪ ﺳﺨﻄﻪ

Artinya: “Maknanya adalah beliau senantiasa beradab dengan adabnya Al Quran dan berakhlak dengan akhlaknya, apa yang dipuji Al Quran maka di dalamnya terdapat kerelaan beliau dan apa saja yang dicela Al Quran maka di dalamnya terdepat kemurkaan beliau.” Lihat Kitab Jami’ Al Ulum Wa Al Hikam.

Indahnya mengidolakan Nabi dan orang-orang yang diridhai Allah Ta’ala.

ﻋَﻦْ ﺃَﻧَﺲِ ﺑْﻦِ ﻣَﺎﻟِﻚٍ ﻗَﺎﻝَ ﺟَﺎﺀَ ﺭَﺟُﻞٌ ﺇِﻟَﻰ ﺭَﺳُﻮﻝِ ﺍﻟﻠَّﻪِ - ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ - ﻓَﻘَﺎﻝَ ﻳَﺎ ﺭَﺳُﻮﻝَ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﻣَﺘَﻰ ﺍﻟﺴَّﺎﻋَﺔُ ﻗَﺎﻝَ ‏« ﻭَﻣَﺎ ﺃَﻋْﺪَﺩْﺕَ ﻟِﻠﺴَّﺎﻋَﺔِ ‏» . ﻗَﺎﻝَ ﺣُﺐَّ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﻭَﺭَﺳُﻮﻟِﻪِ ﻗَﺎﻝَ ‏« ﻓَﺈِﻧَّﻚَ ﻣَﻊَ ﻣَﻦْ ﺃَﺣْﺒَﺒْﺖَ ‏» . ﻗَﺎﻝَ ﺃَﻧَﺲٌ ﻓَﻤَﺎ ﻓَﺮِﺣْﻨَﺎ ﺑَﻌْﺪَ ﺍﻹِﺳْﻼَﻡِ ﻓَﺮَﺣًﺎ ﺃَﺷَﺪَّ ﻣِﻦْ ﻗَﻮْﻝِ ﺍﻟﻨَّﺒِﻰِّ - ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ - ‏« ﻓَﺈِﻧَّﻚَ ﻣَﻊَ ﻣَﻦْ ﺃَﺣْﺒَﺒْﺖَ ‏» . ﻗَﺎﻝَ ﺃَﻧَﺲٌ ﻓَﺄَﻧَﺎ ﺃُﺣِﺐُّ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﻭَﺭَﺳُﻮﻟَﻪُ ﻭَﺃَﺑَﺎ ﺑَﻜْﺮٍ ﻭَﻋُﻤَﺮَ ﻓَﺄَﺭْﺟُﻮ ﺃَﻥْ ﺃَﻛُﻮﻥَ ﻣَﻌَﻬُﻢْ ﻭَﺇِﻥْ ﻟَﻢْ ﺃَﻋْﻤَﻞْ ﺑِﺄَﻋْﻤَﺎﻟِﻬِﻢْ .

Artinya: “Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu bercerita: “Pernah seorang lelaki datang menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam , lalu dia bertanya: “Wahai Rasulullah, kapan hari kiamat?”, beliau bersabda: “Apa yang kamu telah siapkan untuk hari kiamat”, orang tersebut menjawab: “Kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya”, beliau bersabda: “Sesungguhnya kamu bersama yang engkau cintai”, Anas berkata: “Kami tidak pernah gembira setelah masuk Islam lebih gembira disebabkan sabda nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam “Sesungguhnya kamu bersama yang engkau cintai, maka aku mencintai Allah, Rasul-Nya, Abu Bakar dan Umar, dan berharap aku bersama mereka meskipun aku tidak beramal seperti amalan mereka.” HR. Muslim.

ﻗَﺎﻝَ ﺛَﺎﺑِﺖٌ ﻓَﻜَﺎﻥَ ﺃَﻧَﺲٌ ﺇِﺫَﺍ ﺣَﺪَّﺙَ ﺑِﻬَﺬَﺍ ﺍﻟْﺤَﺪِﻳﺚِ ﻗَﺎﻝَ ﺍﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﻓَﺈِﻧَّﺎ ﻧُﺤِﺒُّﻚَ ﻭَﻧُﺤِﺐُّ ﺭَﺳُﻮﻟَﻚَ .

Tsabit (perawi hadits di atas) berkata: “Senantiasa Anas radhiyallahu ‘anhu jika meriwayatkan hadits ini, beliau berdoa: “Wahai Allah, sesungguhnya kami mencintai-Mu dan mencintai Rasul-Mu”. HR. Ahmad.

Kawanku…Sangat indah…mencintai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berarti akan bersama beliau di hari kiamat, tentunya di dalam surga.

Sangat indah…mencintai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berarti akan bersama beliau di dalam surga meskipun pastinya tidak akan mampu beramal seperti amalan beliau.

Tapi ingat Kawanku…Hadits ini juga berlaku bagi yang;

  • mencintai orang yang buruk akidahnya; penuh dengan kekafiran, penuh dengan kesyirikan, penghinaan terhadap Allah Ta’ala, penghinaan terhadap nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan lainnya dari akidah yang buruk, maka dia akan bersamanya di hari kiamat…
  • mencintai orang yang buruk ibadahnya, ibadah senantiasa bid’ah, tidak memperhatikan kwalitas ibadah, tidak taat dalam ibadah, maka dia akan bersamanya di hari kiamat…
  • mencintai orang yang buruk interaksi sosialnya, sering menggangu orang lain, mecela orang lain, menzhalimi orang lain dan sebagainya dari interkasi social yang buruk, maka dia akan bersamanya di hari kiamat…
  • Mencintai orang yang perbuatan dan tingkah laku buruk dan keji, suka maksiat, suka pamer aurat, suka minum khamr dan barang memabukkan lainnya, suka mencuri, suka berzina, seks bebas dan sebagainya dari perbuatan keji dan buruk, maka dia akan bersanama di hari kiamat…

Mari perhatikan perkataan Al Mubarakfury rahimahullah :

ﻗﻮﻟﻪ ﺍﻟﻤﺮﺀ ﻣﻊ ﻣﻦ ﺃﺣﺐ ﺃﻱ ﻳﺤﺸﺮ ﻣﻊ ﻣﺤﺒﻮﺑﻪ ﻭﻳﻜﻮﻥ ﺭﻓﻴﻘﺎ ﻟﻤﻄﻠﻮﺑﻪ ﻗﺎﻝ ﺗﻌﺎﻟﻰ ﻭﻣﻦ ﻳﻄﻊ ﺍﻟﻠﻪ ﻭﺍﻟﺮﺳﻮﻝ ﻓﺄﻭﻟﺌﻚ ﻣﻊ ﺍﻟﺬﻳﻦ ﺃﻧﻌﻢ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻬﻢ ﺍﻵﻳﺔ ﻭﻇﺎﻫﺮ ﺍﻟﺤﺪﻳﺚ ﺍﻟﻌﻤﻮﻡ ﺍﻟﺸﺎﻣﻞ ﻟﻠﺼﺎﻟﺢ ﻭﺍﻟﻄﺎﻟﺢ ﻭﻳﺆﻳﺪﻩ ﺣﺪﻳﺚ ﺍﻟﻤﺮﺀ ﻋﻠﻰ ﺩﻳﻦ ﺧﻠﻴﻠﻪ ﻛﻤﺎ ﻣﺮ ﻓﻔﻴﻪ ﺗﺮﻏﻴﺐ ﻭﺗﺮﻫﻴﺐ ﻭﻭﻋﺪ ﻭﻭﻋﻴﺪ

Artinya: “Sabda beliau “Seseorang bersama yang yang dia cintai”, maksudnya adalah dia akan dikumpulkan bersama orang yang dia cintai dan akan menjadi teman untuk yang dicarinya, Allah berfirman: “Barangsiapa yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya, maka mereka akan bersama orang-orang yang yang dianugerahkan oleh Allah nikmat atas mereka”, dan secara lahir hadits , mencakup keumuman baik untuk mencintai orang shalih atau orang yang tidak shalih, dan yang menguatkan pendapat ini adalah hadits yang berbunyi: “Seseorang sesuai dengan agama temannya”, sebagaimana yang sudah disebutkan. Maka di dalam hadits ini, terdapat motivasi (untuk berteman dengan orang shalih-pent) dan peringatan keras (untuk tidak berteman dengan orang tidak shalih-pent), di dalam hadits ini terdapat janji yang baik (bagi yang berteman dengan orang shalih-pent) dan ancaman siksa (bagi yang berteman dengan orang tidak shalih-pent).” Lihat kitab Tuhfat Al Ahwadzi.

Kawanku …
Jangan sampai hari kiamat kita seperti apa yang disebutkan di dalam ayat di bawah ini akibat MENJADIKAN IDOLA YANG TIDAK PANTAS UNTUK DIIDOLAKAN, BAIK KARENA KEKAFIRANNYA, KESYIRIKANNYA, KEBID’AHANNYA DAN MAKSIATNYA!!!.

} ﻳَﻮْﻡَ ﺗُﻘَﻠَّﺐُ ﻭُﺟُﻮﻫُﻬُﻢْ ﻓِﻲ ﺍﻟﻨَّﺎﺭِ ﻳَﻘُﻮﻟُﻮﻥَ ﻳَﺎ ﻟَﻴْﺘَﻨَﺎ ﺃَﻃَﻌْﻨَﺎ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﻭَﺃَﻃَﻌْﻨَﺎ ﺍﻟﺮَّﺳُﻮﻟَﺎ ‏( 66 ‏) ﻭَﻗَﺎﻟُﻮﺍ ﺭَﺑَّﻨَﺎ ﺇِﻧَّﺎ ﺃَﻃَﻌْﻨَﺎ ﺳَﺎﺩَﺗَﻨَﺎ ﻭَﻛُﺒَﺮَﺍﺀَﻧَﺎ ﻓَﺄَﺿَﻠُّﻮﻧَﺎ ﺍﻟﺴَّﺒِﻴﻠَﺎ ‏( {(67 ‏[ ﺍﻷﺣﺰﺍﺏ 66 : ، 67 ‏]

Artinya: “Pada hari ketika muka mereka dibolak-balikkan dalam neraka, mereka berkata: Alangkah baiknya, andai kata kami taat kepada Allah dan taat (pula) kepada Rasul. Dan mereka berkata: "Wahai Rabb kami, sesungguhnya kami telah menaati pemimpin-pemimpin dan pembesar-pembesar kami, lalu mereka menyesatkan kami dari jalan (yang benar).” QS. Al Ahzab: 66-67.

*) Ditulis oleh Ahmad Zainuddin, 6 Rabi’ul Awwal 1433H Dammam KSA

Sumber:
dakwahsunnah.com

Kamis, 06 Oktober 2016

Siapakah Pengikut Dajjal?

Pengikut dajjal

Dajjal adalah ujian diakhir zaman. Atas izin Allah dia memiliki kekuatan yang luar biasa. Banyak yang terpikat olehnya.

Siapakah Pengikut Dajjal?

Oleh:
Muhammad Abduh Tuasikal, MSc

Segala puji bagi Allah pemberi berbagai macam nikmat. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan sahabatnya.

Dajjal sudah kita ketahui bersama adalah fitnah terbesar di akhir zaman. Dajjal ini punya pengikut sebagaimana disebutkan dalam berbagai hadits yang shahih yang akan rumaysho.com ulas secara sederhana dalam tulisan kali ini.

Pengikut Dajjal adalah dari Yahudi, non Arab dan bangsa Turk. Yang menjadi pengikutnya pula beraneka ragam, ada juga orang Arab dan wanita.


Beberapa riwayat yang membuktikan hal ini.

Dari Anas bin Malik, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

يَتْبَعُ الدَّجَّالَ مِنْ يَهُودِ أَصْبَهَانَ سَبْعُونَ أَلْفًا عَلَيْهِمُ الطَّيَالِسَةُ

“Yang mengikuti Dajjal adalah orang Yahudi dari Ashbahan (Iran) dan jumlahnya ada 70.000 orang dan mereka memakai thilsan (yang menutup pundak dan badan)” (HR. Muslim no. 2944).

Di kalangan orang Yahudi, Dajjal dikenal dengan Al Masih bin Dawud (Lihat Al Yaumul Akhir-Al Qiyamatush Shugro, 244).

Syaikh Salim bin I’ed Al Hilali berkata,

“Mengapa Nabi menyebutkan Yahudi Ashbahan (Iran) secara khusus?! Jawabnya, karena hubungan yang amat erat antara Yahudi dengan Syi’ah. Sejarah mencatat bahwa kaum Syi’ah sepanjang masa selalu membantu kaum Yahudi untuk menghancurkan kaum muslimin, tidak seperti yang sering digambarkan oleh media-media penyesat sekarang yang menggambarkan bahwa kaum Syi’ah mengusir Yahudi dan memerdekakan negeri dari Yahudi. Demi Allah, semua itulah politik dan kedustaan”. (Kaset Syarh Ushul Sunnah Ahmad bin Hanbal no. 9)

Dalam hadits Abu Bakr Ash Shiddiq, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الدَّجَّالُ يَخْرُجُ مِنْ أَرْضٍ بِالْمَشْرِقِ يُقَالُ لَهَا خُرَاسَانُ يَتْبَعُهُ أَقْوَامٌ كَأَنَّ وُجُوهَهُمُ الْمَجَانُّ الْمُطْرَقَةُ

“Dajjal itu keluar dari bumi sebelah barat yang disebut Khurasan. Dajjal akan diikuti oleh kaum yang wajah mereka seperti tameng yang dilapisi kulit”. Kata Ibnu Katsir, “Nampaknya –wallahu a’lam- mereka adalah bangsa Turk yang menjadi penolong Dajjal nantinya.” (An Nihayah Al Fitan wal Malahim, 1: 117).

Yang menunjukkan pula bahwa pengikut Dajjal adalah orang non Arab, dapat dilihat dari dua riwayat berikut.

Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى يُقَاتِلَ الْمُسْلِمُونَ التُّرْكَ قَوْمًا وُجُوهُهُمْ كَالْمَجَانِّ الْمُطْرَقَةِ يَلْبَسُونَ الشَّعَرَ وَيَمْشُونَ فِى الشَّعَرِ

“Tidak akan terjadi hari Kiamat hingga kaum muslimin memerangi bangsa Turk, yaitu kaum di mana wajah-wajah mereka seperti tameng yang dilapisi kulit, mereka memakai (pakaian) yang terbuat dari bulu dan berjalan (dengan sandal) yang terbuat dari bulu” (HR. Muslim no. 2912).

Dalam riwayat Bukhari, dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى تُقَاتِلُوا قَوْمًا نِعَالُهُمُ الشَّعَرُ ، وَحَتَّى تُقَاتِلُوا التُّرْكَ ، صِغَارَ الأَعْيُنِ ، حُمْرَ الْوُجُوهِ ، ذُلْفَ الأُنُوفِ كَأَنَّ وُجُوهَهُمُ الْمَجَانُّ الْمُطْرَقَةُ

“Tidak akan terjadi hari Kiamat hingga kalian memerangi satu kaum yang sandal-sandal mereka terbuat dari bulu, dan kalian memerangi bangsa Turk yang bermata sipit, berwajah merah, hidungnya pesek, wajah-wajah mereka seperti tameng yang dilapisi kulit” (HR. Bukhari no. 3587).

Namun pengikut Dajjal juga ada yang berasal dari bangsa Arab karena kebodohan yang menimpa mereka. 


Sebagaimana disebutkan dalam hadits Abu Umamah yang cukup panjang, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَإِنَّ مِنْ فِتْنَتِهِ أَنْ يَقُولَ لأَعْرَابِىٍّ أَرَأَيْتَ إِنْ بَعَثْتُ لَكَ أَبَاكَ وَأُمَّكَ أَتَشْهَدُ أَنِّى رَبُّكَ فَيَقُولُ نَعَمْ. فَيَتَمَثَّلُ لَهُ شَيْطَانَانِ فِى صُورَةِ أَبِيهِ وَأُمِّهِ فَيَقُولاَنِ يَا بُنَىَّ اتَّبِعْهُ فَإِنَّهُ رَبُّكَ

“Di antara fitnah Dajjal adalah, ia akan berkata pada orang Arab, “Bagaimana menurutmu jika aku membangkitkan ayah dan ibumu, lalu engkau bersaksi bahwa aku adalah Rabbmu, apakah engkau mau?” “Iya, mau”, jawab orang Arab tersebut. Lalu dua setan menyerupai bentuk ayah dan ibunya lantas keduanya berkata, “Wahai anakku, ikutilah dia (yaitu Dajjal), karena dia adalah Rabbmu”. (HR. Ibnu Majah no. 4077. Hadits ini shahih kata Syaikh Al Albani sebagaimana dalam Shahih Al Jami’ no. 7875 ).

Adapun wanita, keadaan mereka lebih parah dari orang Arab yang dikisahkan di atas karena mereka cepat terpengaruh dan ketidak tahuan yang menimpa mereka. 


Sebagaimana disebutkan dalam hadits Ibnu ‘Umar, Nabishallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

يَنْزِلُ الدَّجَّالُ فِى هَذِهِ السَّبَخَةِ بِمَرِّ قَنَاةَ فَيَكُونُ أَكْثَرَ مَنْ يَخْرُجُ إِلَيْهِ النِّسَاءُ حَتَّى إِنَّ الرَّجُلَ لِيَرْجِعُ إِلَى حَمِيمِهِ وَإِلَى أُمِّهِ وَابْنَتِهِ وَأُخْتِهِ وَعَمَّتِهِ فَيُوثِقُهَا رِبَاطاً مَخَافَةَ أَنْ تَخْرُجَ إِلَيْهِ

“Dajjal akan turun ke Mirqonah (nama sebuah lembah) dan mayoritas pengikutnya adalah kaum wanita, sampai-sampai ada seorang yang pergi ke isterinya, ibunya, putrinya, saudarinya dan bibinya kemudian mengikatnya karena khawatir keluar menuju Dajjal”. (HR. Ahmad 2: 67. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan).

Ditambahkan lagi yang menjadi pengikut Dajjal adalah kelompok Khawarij. 


Sebagaimana dijelaskan dalam hadits berikut ini,

يَنْشَأُ نَشْأٌ يَقْرَأُوْنَ الْقُرْآنَ لاَ يُجَاوِزُ تَرَاقِيْهِمْ, كُلَّمَا خَرَجَ فَرْقٌ قُطِعَ حَتَّى يَخْرُجَ فِيْ أَعْرَاضِهِمْ الدَّجَّالُ

“Akan muncul suatu kelompok yang membaca Al-Qur’an tetapi tidak sampai pada tenggorokan mereka. Setiap kali muncul, mereka dibasmi habis hingga keluar pada pasukan besar mereka Dajjal.” (HR. Ibnu Majah 174 dan dihasankan al-Albani dalam Ash-Shahihah 2455)

Jika kita sudah mengetahui bagaimana dahsyatnya fitnah Dajjal, dan siapa saja yang menjadi pengikutnya –barangkali kita pun bisa termausk karena kejahilan dan lemahnya iman-, maka sudah barang tentu kita harus mengetahui bagaimanakah cara melepaskan diri dari fitnah tersebut. Moga bisa dilanjutkan pada tulisan selanjutnya dengan pertolongan Allah.

Wallahu waliyyut taufiq was sadaad.



Cerita tentang Dajjal lainnya di rumaysho.com:

1. Bukti Adanya Dajjal.

2. Sifat-sifat Dajjal.

3. Berbagai Fitnah Dajjal.

4. Tempat Keluarnya Dajjal.



Referensi:

Asyrotus Sa’ah, Yusuf bin ‘Abdillah bin Yusuf Al Wabil, terbitan Darul Ibnul Jauzi, cetakan pertama, tahun 1431 HAl Yaumul Akhir-Al Qiyamatush Shugro, Dr. ‘Umar Sulaiman Al Asyqor, Darun Nafais-Maktabah Al Falah, cetakan keempat, 1411 H.Tulisan Ustadz Abu Ubaidah pada link http://abiubaidah.com/dajjal-imajinasi-atau-fakta.html/



@ Ummul Hamam, Riyadh, KSA, 30 Rabi’ul Awwal 1433 H

Sumber:
rumaysho.com

Mengapa Islam Muncul di Mekah?


Mengapa islam muncul di mekah? Bukankah masih banyak daerah lain? Mengapa yang dipilih mekah? Syukron..


Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Ada 2 latar belakang pertanyaan semacam ini disampaikan,

  • Pertama, dalam rangka menggugat ketetapan Allah Ta’ala

Bertanya dengan latar belakang semacam ini, pernah dilakukan orang musyrikin quraisy.

Allah ceritakan dalam al-Quran,

وَقَالُوا لَوْلَا نُزِّلَ هَذَا الْقُرْآَنُ عَلَى رَجُلٍ مِنَ الْقَرْيَتَيْنِ عَظِيمٍ

Mereka berkata: “Mengapa al-Quran ini tidak diturunkan kepada seorang besar dari salah satu dua negeri (Mekah dan Thaif) ini?”

Lalu dibantah oleh Allah di lanjutan ayat,

أَهُمْ يَقْسِمُونَ رَحْمَةَ رَبِّكَ

“Apakah mereka yang membagi rahmat dari Rabmu?” (QS. az-Zukhruf: 31-32)

Allah yang menciptakan, Allah yang memiliki, dan Dia yang paling berhak untuk memilih. Dia yang paling berhak menentukan, dimana Allah akan mengutus Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Allah berfirman,

وَرَبُّكَ يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ وَيَخْتَارُ مَا كَانَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ سُبْحَانَ اللَّهِ وَتَعَالَى عَمَّا يُشْرِكُونَ

“Tuhanmu menciptakan apa yang Dia kehendaki dan memilihnya. Sekali-kali tidak ada pilihan bagi mereka. Maha Suci Allah dan Maha Tinggi dari apa yang mereka persekutukan.” (QS. al-Qashas: 68)

Meskipun, jika Allah berkehendak, Dia mampu untuk mengutus rasul di semua daerah,

وَلَوْ شِئْنَا لَبَعَثْنَا فِي كُلِّ قَرْيَةٍ نَذِيرًا

“Jika Aku menghendaki, Aku akan mengutus seorang rasul di setiap daerah.” (QS. al-Furqan: 51)

Namun Allah hanya memilih satu tempat untuk posisi munculnya sang utusan-Nya.

Kemudian, pertanyaan yang diajukan orang musyrik, hakekatnya bukan pertanyaan karena menolak tempat. Tapi pertanyaan karena latar belakang menolak kebenaran. Sehingga, andaikan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam diutus di Yaman, mereka akan mempertanyakan, “Mengapa nabi di utus di Yaman, bukankah masih banyak tempat lainnya?” dan sinonim yang sama juga bisa terjadi ketika beliau diutus di Indonesia sekalipun.

Allah Memilih Karena Hikmah


Dan tentu saja, dalam memilih tempat kedatangan Rasul, Allah tentukan sesuai ilmu-Nya dan hikmah-Nya. Karena Allah tersucikan dari tindakan sia-sia, apalagi hanya untuk main-main.

Allah berfirman,

أَفَحَسِبْتُمْ أَنَّمَا خَلَقْنَاكُمْ عَبَثًا وَأَنَّكُمْ إِلَيْنَا لَا تُرْجَعُونَ ( ) فَتَعَالَى اللَّهُ الْمَلِكُ الْحَقُّ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ رَبُّ الْعَرْشِ الْكَرِيمِ

“Apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu untuk main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami? (115) Maka Maha Tinggi Allah, Sang Raja al-Haq… (QS. al-Mukminun: 115-116)

  • Kedua, dalam rangka menggali hikmah mengapa Allah memilih Mekah sebagai tempat munculnya islam.


Banyak ketetapan Allah yang sebenarnya makhluk tidak memiliki kepentingan dengannya. Dalam arti, makhluk tahu maupun tidak tahu, sama sekali tidak menambah ketaqwaannya kepada Allah. Bisa jadi, pertanyaan yang hanya sebatas kepo untuk sesuatu yang tidak ada kepentingan dengannya, termasuk tindakan kurang beradab.

Karena itulah, kita tidak pernah menjumpai ada sahabat yang mempertanyakan hal ini. sementara mereka adalah manusia yang paling haus tentang ilmu agama. Dan mereka memiliki guru yang paling istimewa, yaitu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tanggung jawab kita, bagaimana bisa bertemu Allah dengan selamat. Sementara alasan, mengapa Allah mengutus Rasul-Nya dari Mekah, kita serahkan kepada Allah yang Maha Tahu,

اللَّهُ أَعْلَمُ حَيْثُ يَجْعَلُ رِسَالَتَهُ

“Allah lebih mengetahui di mana Dia menempatkan tugas kerasulan.” (QS. al-An’am: 124)

Meskipun bisa saja orang mencari hikmah di  balik diutusnya rasul, dengan tujuan untuk menguatkan iman.

Sebagian referensi menyebutkan beberapa hikmah besar, mengapa Allah mengutus Rasul-Nya Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam di Mekah,

  • Pertama, orang mekah dikenal sebagai orang yang ummi, tidak bisa baca tulis. Termasuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri orang yang tidak bisa membaca dan menulis. 

Sementara kehadiran beliau membawa mukjizat terbesar, yaitu al-Quran. Sehingga, latar belakang beliau akan menepis anggapan bahwa al-Quran ditulis oleh Muhammad dan para sahabatnya.

  • Kedua, di masa jahiliyah, sudah ada kekuatan besar yang menjadi negara adidaya, romawi dan persia. 
Sementara jazirah arab jauh di selatan, terpisah dengan gurun mematikan dengan romawi dan persia.

Disamping jazirah arab sendiri tidak terlalu bisa diharapkan akan menghasilkan keuntungan dari sisi pertanian, sehingga romawi dan persi tidak ada nafsu untuk menaklukkanya.

Kondisi ini sangat menguntungkan dari sisi tantangan dakwah, karena islam datang di luar wilayah negara adikuasa, sehingga tidak mengalami tantangan dari penguasanya. Dan ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dibaiat sebagai kepala negara Madinah, beliau berdiri di wilayah yang tidak masuk kekuasaan negara lain.

  • Ketiga, di kota Mekah ada ka’bah yang merupakan salah satu syiar islam, karena mengunjungi ka’bah bagian dari ajaran Ibrahim. 
Sehingga kehadiran beliau di Mekah sebagai tahap awal untuk pembersihan masjidil haram dari semua bentuk lambang kesyirikan.

Di samping itu, ka’bah menjadi pusat perhatian masyarakat di jazirah arab. Sehingga memudahkan Rasul untuk mendakwahkan mereka semua ketika mereka datang di kota Mekah.

Allahu a’lam

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)


Sumber: https://konsultasisyariah.com

Rabu, 05 Oktober 2016

Inilah Cara Merealisasikan Tauhid

 P

Fatwa Syaikh Muhammad Shalih Al Munajjid

Soal:

Bagaimana cara seorang hamba merealisasikan tauhid kepada Allah ta’ala ?


Jawab:

Segala puji hanya untuk Allah. Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada Rasulullah .ﷺ

Saudaraku –semoga Allah senantiasa menjaga anda-, anda telah bertanya tentang satu perkara yang agung, suatu perkara yang sungguh mudah untuk diamalkan bagi mereka yang dimudahkan Allah untuk mengamalkannya. Kita memohon kepada Allah agar memudahkan diri kita dan saudara-saudara kaum muslimin untuk melakukan setiap kebaikan.

Ketahuilah, merealisasikan tauhid hanya dapat terwujud dengan jalan mempraktikkan kandungan dua kalimat syahadat, yaitu persaksian bahwa tidak ada sesembahan yang benar selain Allah semata dan bahwa Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah utusan Allah.

Mempraktikkan dua kalimat syahadat ini memiliki dua tingkatan, yaitu tingkatan yang wajib dan tingkatan yang mustahab.


Tingkatan yang wajib dapat terealisasi dengan melakukan tiga hal sebagai berikut:

  1. Meninggalkan semua bentuk syirik, baik syirik besar ( akbar), syirik kecil (asghar ), maupun syirik yang tersembunyi (khafiy );
  2. Meninggalkan semua bentuk bid’ah; dan
  3. Meninggalkan semua jenis kemaksiatan.
Sementara itu, tingkatan yang mustahab adalah tingkatan dimana orang-orang saling berlomba menggapai keutamaan, yaitu bersaing agar di dalam hati tidak terdapat sedikitpun tujuan dan kebergantungan kepada selain Allah Ta’ala.

Dengan demikian, hatinya berorientasi secara total kepada Allah Ta’ala , tanpa berpaling kepada yang lain. Ucapannya untuk Allah, perbuatan dan ibadahnya untuk Allah. Bahkan segala gerak-gerik hatinya hanya untuk Allah semata. 
Sebagian ulama menerangkan bahwa tingkatan ini dicapai dengan meninggalkan segala sesuatu yang pada asalnya mubah karena khawatir dapat menjerumuskan pada perbuatan dosa atau kerugian di akhirat. Dan hal tersebut mencakup amalan hati, lisan, dan anggota badan.

Seseorang yang ingin merealisasikan kedua tingkatan di atas wajib mempersiapkan:
  1. Ilmu. Jika tidak memiliki ilmu bagaimana mungkin seseorang dapat merealisasikan tauhid dan mengamalkan sesuatu yang tidak diketahui dan dipahami. Setiap orang yang telah dibebani syari’at wajib mempelajari tauhid sehingga dapat memperbaiki keyakinan, perkataan, dan perbuatannya. Selain hal tersebut, maka mengilmuinya sekedar dianjurkan;
  2. Membenarkan dan meyakini dengan kuat terhadap segala berita dan informasi yang berasal dari Allah dan Nabi-Nya shallallahu ‘alayhi wa sallam ;
  3. Tunduk dan taat terhadap ketentuan Allah dan Rasul-Nya shallallahu ‘alayhi wa sallam dengan cara melaksanakan segala perintah-Nya dan meninggalkan segala larangan-Nya.
Semakin banyak orang dalam merealisasikan perkara-perkara di atas, maka semakin kuat pula tauhidnya kepada Allah dan semakin besar pahala yang akan dia peroleh. Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam telah menjelaskan kepada kita bahwa barangsiapa yang mampu merealisasikan derajat tauhid yang paling tinggi, maka dia akan digolongkan bersama 70.000 orang yang masuk surga tanpa hisab. Kita memohon keutamaan dari Allah Ta’ala .

Balasan Bagi Mereka yang Merealisasikan Tauhid


Diriwayatkan di dalam shahih Bukhari (5705) dan Muslim (220), dari Ibnu ‘Abbas –radhiyallahu ‘anhuma – mengatakan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ﻋُﺮِﺿَﺖْ ﻋَﻠَﻲَّ ﺍﻟْﺄُﻣَﻢُ ﻓَﺮَﺃَﻳْﺖُ ﺍﻟﻨَّﺒِﻲَّ ﻭَﻣَﻌَﻪُ ﺍﻟﺮُّﻫَﻴْﻂُ ﻭَﺍﻟﻨَّﺒِﻲَّ ﻭَﻣَﻌَﻪُ ﺍﻟﺮَّﺟُﻞُ ﻭَﺍﻟﺮَّﺟُﻠَﺎﻥِ ﻭَﺍﻟﻨَّﺒِﻲَّ ﻟَﻴْﺲَ ﻣَﻌَﻪُ ﺃَﺣَﺪٌ ﺇِﺫْ ﺭُﻓِﻊَ ﻟِﻲ ﺳَﻮَﺍﺩٌ ﻋَﻈِﻴﻢٌ ﻓَﻈَﻨَﻨْﺖُ ﺃَﻧَّﻬُﻢْ ﺃُﻣَّﺘِﻲ ﻓَﻘِﻴﻞَ ﻟِﻲ ﻫَﺬَﺍ ﻣُﻮﺳَﻰ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﻭَﻗَﻮْﻣُﻪُ ﻭَﻟَﻜِﻦْ ﺍﻧْﻈُﺮْ ﺇِﻟَﻰ ﺍﻟْﺄُﻓُﻖِ ﻓَﻨَﻈَﺮْﺕُ ﻓَﺈِﺫَﺍ ﺳَﻮَﺍﺩٌ ﻋَﻈِﻴﻢٌ ﻓَﻘِﻴﻞَ ﻟِﻲ ﺍﻧْﻈُﺮْ ﺇِﻟَﻰ ﺍﻟْﺄُﻓُﻖِ ﺍﻟْﺂﺧَﺮِ ﻓَﺈِﺫَﺍ ﺳَﻮَﺍﺩٌ ﻋَﻈِﻴﻢٌ ﻓَﻘِﻴﻞَ ﻟِﻲ ﻫَﺬِﻩِ ﺃُﻣَّﺘُﻚَ ﻭَﻣَﻌَﻬُﻢْ ﺳَﺒْﻌُﻮﻥَ ﺃَﻟْﻔًﺎ ﻳَﺪْﺧُﻠُﻮﻥَ ﺍﻟْﺠَﻨَّﺔَ ﺑِﻐَﻴْﺮِ ﺣِﺴَﺎﺏٍ ﻭَﻟَﺎ ﻋَﺬَﺍﺏٍ ﺛُﻢَّ ﻧَﻬَﺾَ ﻓَﺪَﺧَﻞَ ﻣَﻨْﺰِﻟَﻪُ ﻓَﺨَﺎﺽَ ﺍﻟﻨَّﺎﺱُ ﻓِﻲ ﺃُﻭﻟَﺌِﻚَ ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﻳَﺪْﺧُﻠُﻮﻥَ ﺍﻟْﺠَﻨَّﺔَ ﺑِﻐَﻴْﺮِ ﺣِﺴَﺎﺏٍ ﻭَﻟَﺎ ﻋَﺬَﺍﺏٍ ﻓَﻘَﺎﻝَ ﺑَﻌْﻀُﻬُﻢْ ﻓَﻠَﻌَﻠَّﻬُﻢْ ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﺻَﺤِﺒُﻮﺍ ﺭَﺳُﻮﻝَ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﻭَﻗَﺎﻝَ ﺑَﻌْﻀُﻬُﻢْ ﻓَﻠَﻌَﻠَّﻬُﻢْ ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﻭُﻟِﺪُﻭﺍ ﻓِﻲ ﺍﻟْﺈِﺳْﻠَﺎﻡِ ﻭَﻟَﻢْ ﻳُﺸْﺮِﻛُﻮﺍ ﺑِﺎﻟﻠَّﻪِ ﻭَﺫَﻛَﺮُﻭﺍ ﺃَﺷْﻴَﺎﺀَ ﻓَﺨَﺮَﺝَ ﻋَﻠَﻴْﻬِﻢْ ﺭَﺳُﻮﻝُ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﻓَﻘَﺎﻝَ ﻣَﺎ ﺍﻟَّﺬِﻱ ﺗَﺨُﻮﺿُﻮﻥَ ﻓِﻴﻪِ ﻓَﺄَﺧْﺒَﺮُﻭﻩُ ﻓَﻘَﺎﻝَ ﻫُﻢْ ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﻭَﻟَﺎ ﻳَﺴْﺘَﺮْﻗُﻮﻥَ ﻭَﻟَﺎ ﻳَﺘَﻄَﻴَّﺮُﻭﻥَ ﻭﻻ ﻳﻜﺘﻮﻭﻥ ﻭَﻋَﻠَﻰ ﺭَﺑِّﻬِﻢْ ﻳَﺘَﻮَﻛَّﻠُﻮﻥَ ﻓَﻘَﺎﻡَ ﻋُﻜَّﺎﺷَﺔُ ﺑْﻦُ ﻣِﺤْﺼَﻦٍ ﻓَﻘَﺎﻝَ ﺍﺩْﻉُ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﺃَﻥْ ﻳَﺠْﻌَﻠَﻨِﻲ ﻣِﻨْﻬُﻢْ ﻓَﻘَﺎﻝَ ﺃَﻧْﺖَ ﻣِﻨْﻬُﻢْ ﺛُﻢَّ ﻗَﺎﻡَ ﺭَﺟُﻞٌ ﺁﺧَﺮُ ﻓَﻘَﺎﻝَ ﺍﺩْﻉُ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﺃَﻥْ ﻳَﺠْﻌَﻠَﻨِﻲ ﻣِﻨْﻬُﻢْ ﻓَﻘَﺎﻝَ ﺳَﺒَﻘَﻚَ ﺑِﻬَﺎ ﻋُﻜَّﺎﺷَﺔُ

“ Telah diperlihatkan kepadaku beberapa umat, lalu aku melihat seorang Nabi, sekelompok orang menjadi pengikutnya, dan seorang Nabi, hanya satu dan dua orang yang menjadi pengikutnya, dan Nabi yang lain lagi tanpa ada seorangpun menjadi pengikutnya.

Tiba-tiba diperlihatkan kepadaku sekelompok orang yang banyak jumlahnya, aku mengira bahwa mereka itu umatku, tetapi dikatakan kepadaku bahwa mereka itu adalah Musa dan kaumnya.

Tiba-tiba aku melihat lagi sekelompok orang yang lain yang jumlahnya sangat besar, maka dikatakan kepadaku, ‘mereka itu adalah umatmu, dan bersama mereka ada 70.000 (tujuh puluh ribu) orang yang masuk surga tanpa hisab dan tanpa adzab -disiksa terlebih dahulu.’

Kemudian beliau bangkit dan masuk ke dalam rumahnya. Sedangkan, orang-orang pun memperbincangkan tentang siapakah mereka itu yang masuk surga tanpa hisab dan tanpa adzab?, Di antara mereka ada yang berkata, ‘barangkali mereka itu orang orang yang telah menyertai Nabi dalam hidupnya,’ dan ada lagi yang berkata, ‘barangkali mereka itu orang orang yang dilahirkan dalam keadaan Islam dan tidak pernah menyekutukan Allah dengan sesuatupun, dan yang lainnya menyebutkan spekulasi yang lain.’

Kemudian Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam keluar dan mereka pun memberitahukan hal tersebut kepada beliau. Maka beliau shallallahu’alaihi wa sallam pun bersabda, ‘Mereka itu adalah orang-orang yang tidak pernah minta ruqyah, tidak melakukan tathayyur, dan tidak pernah meminta di-kay ( teknik pengobatan dengan mempelkan besi yang dipanaskan pada tempat luka), dan mereka pun bertawakkal kepada Rabb mereka.’

Kemudian Ukasyah bin Muhshan berdiri dan berkata, ‘Mohonkanlah kepada Allah agar aku termasuk golongan mereka,’ Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda, ‘Ya, engkau termasuk golongan mereka,’

Kemudian seseorang yang lain berdiri juga dan berkata, ‘Mohonkanlah kepada Allah agar aku juga termasuk golongan mereka, Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda menjawab, ‘Ukasyah telah mendahuluimu’ .

Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam “ ﻟَﺎ ﻳَﺴْﺘَﺮْﻗُﻮﻥَ” artinya adalah tidak meminta orang lain untuk meruqyah dirinya. Meskipun, meminta untuk diruqyah hukum asalnya adalah jaiz (boleh), tetapi meninggalkannya lebih utama.

Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam “ ﻭَﻟَﺎ ﻳَﺘَﻄَﻴَّﺮُﻭﻥَ “ artinya adalah tidak menganggap sial sesuatu dengan sebab burung atau dengan sebab lainnya, yang karenanya seseorang membatalkan aktivitas yang dia rencanakan disebabkan anggapan sial ini. Anggapan sial semacam ini adalah haram karena termasuk syirik asghar.

Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam “ ﻭَﻟَﺎ ﻳَﻜْﺘَﻮُﻭﻥَ ” artinya adalah menghindari meminta di-kay (pengobatan dengan cara menempelkan besi panas pada luka dengan tujuan agar darah yang keluar dari luka cepat mengering dan berhenti) untuk menyembuhkan penyakit. Meskipun terdapat manfaat pada kay, Nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam membencinya karena tidak ada yang boleh menyiksa dengan api kecuali Allah Ta’ala.

Karakteristik yang sama-sama terdapat dari ketiga perbuatan di atas adalah pelakunya bertawakkal kepada Rabb mereka semata, yakni mereka mengaktualisasikan tawakkal pada derajat yang paling sempurna dan paling tinggi. Tidak ditemukan sedikitpun keberpalingan bahkan kebergantungan pada sebab di dalam hati mereka, akan tetapi mereka bergantung kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala semata.

Tawakkal adalah inti keimanan sebagaimana yang dikatakan oleh Sa’id bin Habib rahimahullah. Bahkan tawakkal adalah tujuan yang paling tinggi sebagaimana yang dituturkan oleh Wahab bin Munabbih rahimahullah.

Kesimpulan dari penjelasan di atas adalah tauhid tidaklah terealisasi dengan berangan-angan, berkhayal, atau sekedar klaim tanpa bukti. Tauhid hanya dapat terealisasi dengan iman dan ihsan yang terpatri dalam hati, dan diwujudkan dalam akhlak yang baik dan amal shalih. Dengan demikian, setiap muslim berkewajiban untuk bersegera melakukan kebaikan dan ketaatan, berpacu dengan jatah umur yang tersisa. Selain itu, mereka juga wajib menganggap ringan kesulitan yang ditemui dan memandang derita yang dialami sebagai sebuah kelezatan karena pada hakikatnya barang dagangan Allah teramat mahal, mahal karena surga-lah yang dijadikan Allah sebagai komoditas dagangnya.
***

Sumber : https://islamqa.info/ar/96083
Penerjemah : Bagas Prasetya Fazri

Sumber:
muslim.or.id

Senin, 03 Oktober 2016

Termasuk Sunnah: Mengajarkan Tauhid Kepada Anak, Sebelum Mengajarkan Al-Quran Kepada Mereka

 Tauhid anak

Oleh : Ustadzah Arfah_Ummu Faynan
(di Makkah Al-Mukarramah)

Ketika mereka telah mulai berbicara, maka ajarkanlah :

"LAA ILAAHA ILLALLAH MUHAMMADUR RASULULLAH ..."

Hendaklah yang pertama kali mereka dengar adalah :

  • Mengenal Allah
  • Mentauhidkan-Nya
  • Dan bahwa Dia bersemayam di atas 'Arsy-Nya
  • Dia melihat manusia dan mendengar perkataan mereka
  • Dan pengetahuan-Nya bersama mereka, di manapun mereka berada.

("Tuhfah Al-Maudud fi Ahkam Al-Maulud", Ibn Qayyim rahimahullah)

Dipost Ustadzah Arfah_Ummu Faynan -hafizhahallah- tgl 6 Rajab 1436 / 25 April 2015

Sumber:
www.salamdakwah.com

Minggu, 02 Oktober 2016

Sejarah Kesyirikan di Dunia


 A


Bagaimana kesyirikan pertama terjadi? Kapan itu terjadi?


Jawab:
Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du ,

Pertama, kita perlu meyakini bahwa rasul yang pertama kali Allah utus adalah Nabi Nuh ‘alaihis salam .


Dalam hadis yang sangat panjang, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menceritakan kejadian yang dialami manusia ketika di padang mahsyar. Dalam penggalan cerita itu, manusia berbondong-bondong mendatangi Nuh agar beliau berdoa kepada Allah. Mereka mengatakan,

ﻳَﺎ ﻧُﻮﺡُ ﺃَﻧْﺖَ ﺃَﻭَّﻝُ ﺍﻟﺮُّﺳُﻞِ ﺇِﻟَﻰ ﺃَﻫْﻞِ ﺍﻷَﺭْﺽِ ﻭَﻗَﺪْ ﺳَﻤَّﺎﻙَ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﺒْﺪًﺍ ﺷَﻜُﻮﺭًﺍ ﺍﺷْﻔَﻊْ ﻟَﻨَﺎ ﺇِﻟَﻰ ﺭَﺑِّﻚَ

Wahai Nuh, anda rasul pertama di muka bumi. Allah menggelari anda dengan hamba yang pandai bersyukur, berikanlah syafaat untuk kami di hadapan Rabmu…
Namun Nabi Nuh kala itu tidak bersedia, karena alasan tertentu. Kemudian beliau mengarahkan agar mendatangi Nabi Ibrahim. (HR. Ahmad 9873, Bukhari 3340, Muslim 501 dan yang lainnya).

Kedua, mengapa Nuh sebagai rasul pertama? Jika Nuh rasul pertama, bagaimana dengan Adam?


Adam manusia pertama sekaligus nabi, namun beliau bukan rasul. Beliau menerima wahyu dari Allah, untuk diri beliau dan semua orang yang ada di sekitar beliau. Dan mereka semua dalam kondisi beriman, sekalipun ada diantara mereka yang melakukan dosa.
Sementara diantara ciri rasul, mereka Allah utus untuk menghadapi kaum yang menyimpang dan keluar dari islam karena pelanggaran kesyirikan. Seperti yang dialami kaum nabi Nuh ‘alaihis salam.

Ketiga, antara Adam dan Nuh, belum ada kesyirikan.


Jarak antara Nuh dan Adam ada 10 generasi. Sebelum Nabi Nuh diutus, tidak ada satupun manusia yang berbuat syirik dan kufur kepada Allah.

Keterangan ini disampaikan Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhuma,

ﻛﺎﻥ ﺑﻴﻦ ﻧﻮﺡ ﻭﺁﺩﻡ ﻋﺸﺮﺓ ﻗﺮﻭﻥ، ﻛﻠﻬﻢ ﻋﻠﻰ ﺷﺮﻳﻌﺔ ﻣﻦ ﺍﻟﺤﻖ . ﻓﺎﺧﺘﻠﻔﻮﺍ، ﻓﺒﻌﺚ ﺍﻟﻠﻪ ﺍﻟﻨﺒﻴﻴﻦ ﻣﺒﺸﺮﻳﻦ ﻭﻣﻨﺬﺭﻳﻦ .

Antara Nuh dan Adam ada 10 generasi. Mereka semua berada di atas syariat yang benar. Kemudian mereka saling berselisih. Kemudian Allah mengutus para nabi, sebagai pemberi gambar gembira dan kabar peringatan. (HR. At-Thabari dalam Tafsirnya no. 4048).

Allah mengutus Nuh ketika ada sebagian manusia yang berbuat kesyirikan, karena itulah, beliau menjadi rosul pertama.

Keempat , berhala di masa Nuh, mewakili orang soleh yang diagungkan kaum mereka.


Allah menceritakan upaya pembelaan kaum Nuh terhadap berhala mereka,

ﻗَﺎﻝَ ﻧُﻮﺡٌ ﺭَﺏِّ ﺇِﻧَّﻬُﻢْ ﻋَﺼَﻮْﻧِﻲ ﻭَﺍﺗَّﺒَﻌُﻮﺍ ﻣَﻦْ ﻟَﻢْ ﻳَﺰِﺩْﻩُ ﻣَﺎﻟُﻪُ ﻭَﻭَﻟَﺪُﻩُ ﺇِﻟَّﺎ ﺧَﺴَﺎﺭًﺍ . ﻭَﻣَﻜَﺮُﻭﺍ ﻣَﻜْﺮًﺍ ﻛُﺒَّﺎﺭًﺍ . ﻭَﻗَﺎﻟُﻮﺍ ﻟَﺎ ﺗَﺬَﺭُﻥَّ ﺁَﻟِﻬَﺘَﻜُﻢْ ﻭَﻟَﺎ ﺗَﺬَﺭُﻥَّ ﻭَﺩًّﺍ ﻭَﻟَﺎ ﺳُﻮَﺍﻋًﺎ ﻭَﻟَﺎ ﻳَﻐُﻮﺙَ ﻭَﻳَﻌُﻮﻕَ ﻭَﻧَﺴْﺮًﺍ

Nuh berkata: “Ya Tuhanku, sesungguhnya mereka telah mendurhakaiku dan telah mengikuti orang-orang yang harta dan anak-anaknya tidak menambah kepadanya melainkan kerugian belaka, (21) dan melakukan tipu-daya yang amat besar”. (22) Dan mereka berkata: “Jangan sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) tuhan-tuhan kamu dan jangan pula sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) wadd , dan jangan pula suwwa’, yaghuts, ya’uq dan nasr.” (QS. Nuh: 21 – 23).

Siapakah berhala-berhala ini?


Ibnu Abbas menjelaskan,

ﺃَﺳْﻤَﺎﺀُ ﺭِﺟَﺎﻝٍ ﺻَﺎﻟِﺤِﻴﻦَ ﻣِﻦْ ﻗَﻮْﻡِ ﻧُﻮﺡٍ ، ﻓَﻠَﻤَّﺎ ﻫَﻠَﻜُﻮﺍ ﺃَﻭْﺣَﻰ ﺍﻟﺸَّﻴْﻄَﺎﻥُ ﺇِﻟَﻰ ﻗَﻮْﻣِﻬِﻢْ ﺃَﻥِ ﺍﻧْﺼِﺒُﻮﺍ ﺇِﻟَﻰ ﻣَﺠَﺎﻟِﺴِﻬِﻢُ ﺍﻟَّﺘِﻰ ﻛَﺎﻧُﻮﺍ ﻳَﺠْﻠِﺴُﻮﻥَ ﺃَﻧْﺼَﺎﺑًﺎ ، ﻭَﺳَﻤُّﻮﻫَﺎ ﺑِﺄَﺳْﻤَﺎﺋِﻬِﻢْ ﻓَﻔَﻌَﻠُﻮﺍ ﻓَﻠَﻢْ ﺗُﻌْﺒَﺪْ ﺣَﺘَّﻰ ﺇِﺫَﺍ ﻫَﻠَﻚَ ﺃُﻭﻟَﺌِﻚَ ﻭَﺗَﻨَﺴَّﺦَ ﺍﻟْﻌِﻠْﻢُ ﻋُﺒِﺪَﺕْ

Mereka adalah nama-nama orang soleh di kalangan kaumnya Nuh. Ketika mereka meninggal, setan membisikkan kaumnya untuk membuat prasasti di tempat-tempat peribadatan orang soleh itu. Dan memberi nama prasasti itu sesuai nama orang soleh tersebut. Merekapun melakukannya. Namun prasasti itu tidak disembah. Ketika generasi (pembuat prasasti) ini meninggal, dan pengetahuan tentang prasasti ini mulai kabur, akhirnya prasasti ini disembah. (HR. Bukhari 4920).

Dari pemaparan di atas bisa kita simpulkan,

  1. Kesyirikan pertama terjadi di zaman Nabi Nuh ‘alahis shalatu was salam
  2. Karena adanya kesyirikan ini, Allah mengutus Nabi Nuh sebagai rasul pertama
  3. Sebab terjadi kesyirikan pertama di bumi adalah karena mengagungkan orang soleh yang telah meninggal.

Ini menunjukkan betapa bahayanya mengkultuskan orang soleh. Berawal dari kultus, kemudian orang menyembah orang soleh itu. 

Karena itu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang semua sikap ghuluw (berlebih-lebihan). Karena sikap ghuluw, sumber bencana umat manusia dari zaman ke zaman.

Dari Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhuma , Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ﻭَﺇِﻳَّﺎﻛُﻢْ ﻭَﺍﻟْﻐُﻠُﻮَّ ﻓِﻰ ﺍﻟﺪِّﻳﻦِ ﻓَﺈِﻧَّﻤَﺎ ﺃَﻫْﻠَﻚَ ﻣَﻦْ ﻛَﺎﻥَ ﻗَﺒْﻠَﻜُﻢُ ﺍﻟْﻐُﻠُﻮُّ ﻓِﻰ ﺍﻟﺪِّﻳﻦِ

Hindari sikap ghuluw dalam masalah agama. Karena yang membinasakan umat sebelum kalian adalah ghuluw dalam masalah agama. (HR. Nasai 3070, Ibnu Majah 3144, dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth).

Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Sumber:
konsultasisyariah.com

Bila Dukun Berkedok Ustadz


 C


Oleh: Abu Ubaidah Yusuf bin Mukhtar as-Sidawi

Muqaddimah


Fenomena perdukunan di negeri ini sudah sangat mengenaskan. Operasi mereka sekarang pun sudah tidak lagi sembunyi-sembunyi, tetapi sudah terang-terangan bak matahari di siang hari.

Kian hari mereka semakin gencar menjajakan perdukunan syirik mereka melalui berbagai media baik elektronik maupun cetak, mulai televisi, koran, hingga internet tanpa tedeng aling-aling lagi.

Masyarakat pun semakin banyak yang terkecoh. Banyak di antara mereka yang silau pada dukun sebab banyak dukun sekarang yang bergaya ustadz, habib, dan kiai, sehingga banyak di antara masyarakat kita menggandrungi para dukun serta mengetuk pintu mereka:

  • Pejabat yang menginginkan kelanggengan kedudukannya…
  • Tokoh politik yang membidik kursi panas jabatannya…
  • Bos yang berhasrat disegani dan terlihat berwibawa di depan karyawannya…
  • Bawahan yang bercita-cita naik pangkatnya…
  • Pedagang yang mengharapkan kelancaran rezekinya…
  • Pengusaha yang berkeinginan untuk menjatuhkan saingan bisnisnya…
  • Remaja yang ingin mengintip masa depan ‘cintanya’…
  • Bujangan yang mengincar wanita idamannya…
  • Istri yang berharap suaminya tidak melirik ‘rumput tetangga’…
  • Rumah tangga yang bermimpi memiliki keturunan di tengah-tengah mereka…
  • Siswa sekolah yang menginginkan kelulusan dalam ujiannya…
  • Bahkan pelacur agar laris didatangi oleh pelanggannya… [1]

Banyak di antara mereka tergopoh-gopoh datang mengetuk pintu para dukun, menghiba bantuannya. Inilah sebuah fenomena nyata di tengah-tengah kita yang menunjukkan betapa menjamurnya dunia klenik dan perdukunan di negeri kita. Realita ini sungguh aneh tapi nyata.

Coba bayangkan, di zaman yang serba teknologi dan alat canggih ini ternyata klenik, mistik, dan perdukunan masih begitu lengket, bahkan pada tokoh-tokoh nasional dan pejabat tinggi.


Yang maju memang teknologinya, tetapi mental dan otaknya masih terbelakang.

Lantas, apa kira-kira faktor penyebab dan pemicu utama yang menjadikan mayoritas masyarakat kita kepincut dengan propaganda sesat dukun dan paranormal (baca: para-gaknormal)?!!

Faktor Larisnya Perdukunan di Indonesia


Ada beberapa faktor yang menjadikan perdukunan begitu marak di Indonesia, di antaranya adalah:

1. Latar belakang bangsa Indonesia yang masih mewarisi keyakinan melekat animisme dan dinamisme, atau hindu dan buddha, sehingga mudah sekali terpengaruh dengan adegan mistik dan dunia klenik, ditambah keislaman yang dianut kaum muslimin Indonesia bercorak tasawuf yang berpikir mistis dan esoteris.

2. Mereka tidak berpegang pada aqidah yang benar ditambah jauhnya mereka dari ilmu agama yang benar serta ulama rabbaniyyun. Mereka masih jauh dari sentuhan tauhid yang murni dan ilmu yang benar.

3. Adanya beberapa orang yang dianggap sebagai tokoh agama malah membela mati-matian dunia klenik dan perdukunan.

4. Kurang sabar dalam menerima ujian kemiskinan sehingga ingin hasil secara instan dan cepat saji.

5. Banyak kalangan pebisnis dan elit politik yang memanfaatkan jasa dukun untuk kelancaran usaha dan politiknya, sehingga mereka menjadi panutan orang-orang awam untuk mendatangi para dukun karena ngiler dengan kesuksesan dan keberhasilan mereka.

6. Jalan pintas untuk meraih kesuksesan ini dianggap paling mudah dan ringan, apalagi setelah melihat banyak bukti dan beragam cerita dari orang-orang yang berhasil dalam waktu yang singkat dengan memanfaatkan jasa dukun.

7. Pemerintah yang terkesan membiarkan bahkan cenderung mendukung praktik perdukunan, karena tidak ada sanksi tegas dan hukuman yang jelas buat mereka yang menyesatkan umat lewat dunia klenik dan perdukunan.

8. Salah kaprah dalam memandang sosok dukun atau kiai sakti. Mereka menjadikan orang pintar (baca: orang gak-pintar), paranormal (baca: para-gaknormal) sebagai tempat bertanya dan mencurahkan keluh kesah dan tempat bersandar serta bergantungnya layaknya seperti Tuhan, padahal tidak ada yang mampu memberikan manfaat dan mudarat atau mengubah nasib kecuali hanya Allah semata.

9. Mayoritas masyarakat lebih percaya kepada wejangan dan titah dukun ketimbang para ulama yang memahami al-Qur‘an dan as-Sunnah. Orang ingin cepat mendapat jodoh, sembuh dari penyakit, cepat kaya, naik pangkat, semuanya datang kepada dukun. Seolah-olah mereka adalah serba bisa dan serba mampu mengatasi masalah. Semua itu mereka menganggap sebagai ikhtiar (usaha dan upaya), sehingga sering mereka menggunakan trik “Ini ‘kan hanya ikhtiar, yang menentukan ‘kan Tuhan”. Sebuah trik yang sangat efisien untuk memperdayai orang-orang bodoh. [2]

Definisi Dukun


Dukun ( kahin ) adalah orang yang mengaku mengetahui ilmu gaib dan memberikan kabar kepada manusia tentang kejadian yang ada di alam semesta. Di kalangan orang-orang Arab dahulu banyak dukun yang mengklaim diri mengetahui banyak perkara gaib. [3]

Al-Hafizh Ibnu Hajar Rahimahullahu Ta’ala mengatakan, “ Al-kahanah (perdukunan) ialah pekerjaan mengaku tahu tentang ilmu gaib seperti mengabarkan tentang apa yang akan terjadi di muka bumi dengan bersandar kepada sebab tertentu yang berasal dari informasi jin yang mencuri kabar langit dari perkataan malaikat kemudian hasilnya disampaikan ke telinga dukun.” [4]

Dalam praktiknya, para petualang dunia klenik dan dukun mempunyai aneka ragam sebutan yang berbeda-beda di setiap daerah dan negara; ahli metafisika menurut ilmiahnya, paranormal menurut istilah media, dukun menurut istilah kampungnya, orang pintar menurut istilah orang bodohnya, kiai karomah menurut kaum ilmuwan Islamnya, orang tua menurut kaum abangan, kiai khos menurut istilah santrinya, atau wali berkaromah menurut istilah tasawufnya.

Nama boleh saja berbeda-beda, namun hakikatnya sama, sama-sama menyimpang dan merusak aqidah yang benar.

Tanda-Tanda Dukun


Agar masalah ini semakin jelas dan orang orang-orang awam tidak mudah terkecoh, maka perlu disampaikan secara detail ciri-ciri dukun sehingga kita bisa selamat dari tipu muslihat mereka. Tanda-tanda dukun yaitu:

1. Suka menanyakan nama pasien, tanggal lahir, dan nama orang tuanya.

2. Suka mengambil sesuatu yang bisa dipakai pasien, seperti baju, peci, sapu tangan, dan lain-lain.

3. Terkadang meminta binatang dengan sifat-sifat tertentu untuk disembelih, kadang darahnya dioleskan kebagian-bagian tubuh yang sakit, atau dibuang ke sungai, laut, atau tempat angker.

4. Suka menulis rajah-rajah atau memberikan jimat-jimat.

5. Meminta pasien untuk membaca do’a-do’a atau mantra-mantra dalam waktu khusus dan jumlah tertentu.

6. Menyuruh pasien untuk memberikan sesaji berupa makanan atau minuman sebagai kelengkapan dari ritual yang harus dijalaninya.

7. Membaca mantra-mantra atau huruf rajah yang susah dipahami maknanya.

8. Memberikan bungkusan hijib atau tumbal kepada pasien yang berisi huruf dan angka-angka.

9. Kadang menyuruh untuk menjauhi manusia beberapa waktu dengan menyepi dan mengurung diri dalam kamar yang gelap yang disebut oleh orang awam sebagai hujbah , semedi, atau bertapa.

10. Kadang minta pasien untuk tidak menyentuh air selama beberapa hari, biasanya 40 hari.

11. Memberikan sesuatu kepada pasien untuk ditanam di dalam tanah.

12. Memberikan lembaran kertas kepada pasien untuk dibakar, lalu asapnya dipakai untuk mengasapi dirinya atau diseduh dalam air kemudian diminta untuk meminumnya.

13. Berkomat-kamit ketika membaca mantra atau do’a-do’a dengan bahasa yang tidak bisa dipahami.

14. Terkadang memberi tahu pasien tentang namanya, kampung halamannya, atau kesulitan yang dihadapi sebelum si pasien memberitahukannya.

15. Terkadang menuliskan huruf-huruf untuk si pasien di atas kertas hijib untuk dimasukkan ke dalam bejana putih berisi air, kemudian meminumnya. [5]


Dukun Hitam Dukun Putih


Seyogianya seorang muslim bersikap cerdas dalam menilai sesuatu. Hendaknya dia tidak mudah terkecoh dengan tipuan penampilan. Justru dia tetap menjadikan substansi sesuatu sebagai tolok ukur penilaian.

Dukun bukan hanya yang notabene beraliran hitam, yang biasanya ditandai dengan mengenakan belangkon atau ikat kepala dan pakaian serba hitam. Tidak lupa menyelipkan sebilah keris di pinggang serta menyalakan kemenyan dan dupa di depannya.

Namun, termasuk mereka juga adalah yang menamakan diri “dukun putih”. Yang kedua ini kerap berbusana bak seorang wali, dengan serban di kepala dan jubah putih, serta tidak lupa bersenjatakan seuntai tasbih yang biji-bijinya terkadang mengalahkan besarnya bola pingpong. Mereka semua sama! [6]

Sebagai dampak kebodohan umat terhadap agama Islam atau terlalu liciknya tipu muslihat seorang paranormal dalam menjalankan aksinya, dengan berkedok sebagai seorang ustadz, kiai, atau habib, atau praktik pengobatan, ritual kesesatan ini semakin tumbuh subur di tengah masyarakat.

Dengan menggunakan simbol-simbol dan amalan-amalan yang berbau Islam yang diambil dari ayat-ayat suci al-Qur‘an, kesesatan ritual mereka semakin tidak tampak.

Apalagi penampilan mereka terkesan begitu islami, misalkan dengan serban, gamis, dan berjenggot dan memenuhi ruang praktiknya dengan ayat-ayat al-Qur‘an atau tulisan Asma‘ul Husna yang dipajang di dinding, yang membuat orang awam semakin terkecoh dan tidak bisa mengelak, apalagi mengatakan bahwa pengobatan yang dilakukan si paranormal itu menyimpang, karena bacaan yang dibaca si pasien adalah lafal Islam, seperti: Bismillah, Allahu Akbar, dan sebagainya. “Bagaimana mungkin berlandaskan ayat-ayat al-Qur‘an dan tidak merugikan orang dikatakan menyimpang?” Begitu keyakinan mereka.

Ada banyak contoh ritual yang dipergunakan oleh paranormal yang berkedok sebagai ustadz, kiai, atau habib berkaromah, di antaranya adalah:

1. Terapi dengan amalan-amalan dzikir yang tidak ada tuntunannya dari al-Qur‘an maupun sunnah Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam . Misalnya dengan membaca dzikir-dzikir aneh, seperti: membaca ayat-ayat surat al-Ikhlash dengan lafal kul kul kul…hu…hu hu hu… dan sebagainya dengan jumlah tertentu.

2. Terapi dengan menjalani ritual puasa, seperti puasa mutih , puasa 40 hari, puasa 100 hari, dan sebagainya.

3. Ritual memindahkan penyakit pasien kepada hewan ternak (kambing), ayam, telur ayam, dan sebagainya.

4. Memberi minuman air putih yang sudah dibacai mantra-mantra.

5. Memberikan rajah yang sudah ditulis di kertas atau di kain, yang dapat dikenakan atau dimasukkan dalam minuman atau diminum oleh pasien.

6. Memberikan jimat atau benda keramat, seperti: cincin, gelang, kalung, sabuk, susuk, dan sebagainya.

7. Transfer energi atau tenaga dalam disertai dengan dzikir dan amalan khusus.

8. Ruqyah jama’ah yang dilakukan oleh sebagian kelompok yang kurang paham tentang perbedaan sunnah dan bid’ah. [7]

Beda Dukun dan Sihir Dengan Karomah


Para dukun dan tukang sihir banyak yang menampakkan aksi-aksi luar biasa, yang disiarkan di media massa dan layar kaca yang disaksikan oleh banyak penonton setia. Sebagian orang karena kejahilan tentang agama menilai hal itu sebagai karomah padahal hal itu adalah sihir dan penipuan yang amat nyata.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah Rahimahullahu Ta’ala bahwa, “Fitnah Dajjal itu tidaklah terbatas pada orang-orang yang hidup di zamannya saja, bahkan fitnah Dajjal yang sesungguhnya adalah setiap kebatilan dan penyimpangan terhadap syari’at yang dibarengi dengan keluarbiasaan. Barangsiapa percaya dengan kesesatan yang memiliki kedigdayaan tersebut maka dia terkena fitnah Dajjal. Fitnah jenis ini banyak sekali pada setiap waktu dan tempat. Namun, fitnah Dajjal yang diberitakan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dalam banyak haditsnya adalah fitnah yang paling dahsyat.” [8]

Memang, antara karomah dan sihir ada kemiripan dari sisi sama-sama keluarbiasaan dan kedigdayaan. Namun, harus diingat bahwa kedigdayaan dan keluarbiasaan yang muncul pada seseorang tidak mesti menunjukkan kebaikan. Akan tetapi, kebaikan seseorang harus diukur dengan barometer syari’at.

Tidakkah engkau lihat bahwa Dajjal juga memiliki keluarbiasaan, tetapi apakah hal itu menunjukkan dia shalih dan baik?!! Jadi, dalam hal ini harus dibedakan antara karomah dan istidraj.

Karomah adalah keluarbiasaan yang Allah Subhanahu wa Ta’ala anugerahkan kepada hamba-Nya yang beriman dan bertaqwa. Adapun kedigdayaan yang muncul dari orang yang menyimpang, penyihir, dan para Dajjal, maka hal itu disebut istidraj dan tipu daya Iblis.

Imam Syafi’i Rahimahullahu Ta’ala telah menyingkap kedok mereka:

ﺍﺑْﻦُ ﺃَﺑِﻲْ ﺣَﺎﺗِﻢٍ : ﺣَﺪَّﺛَﻨَﺎ ﻳُﻮْﻧُﺲُ ، ﻗُﻠْﺖُ ﻟِﻠﺸَّﺎﻓِﻌِﻲِّ : ﺻَﺎﺣِﺒُﻨَﺎ ﺍﻟﻠَّﻴْﺚُ ﻳَﻘُﻮْﻝُ : ﻟَﻮْ ﺭَﺃَﻳْﺖُ ﺻَﺎﺣِﺐَ ﻫَﻮَﻯ ﻳَﻤْﺸِﻲْ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟْﻤَﺎﺀِ ﻣَﺎ ﻗَﺒِﻠْﺘُﻪ ُ . ﻗَﺎﻝَ : ﻗَﺼَّﺮَ ، ﻟَﻮْ ﺭَﺃَﻳْﺘُﻪُ ﻳَﻤْﺸِﻲْ ﻓِﻲ ﺍﻟْﻬَﻮَﺍﺀِ ﻟَﻤَﺎ ﻗَﺒِﻠْﺘُﻪُ

Ibnu Abi Hatim berkata: Menceritakan kepada kami Yunus: Aku berkata kepada Syafi’i: Kawan kita Laits mengatakan, “Seandainya saya melihat pengekor hawa nafsu berjalan di atas air, saya tidak akan menerimanya.” Syafi’i berkata, “Dia masih kurang, seandainya saya melihatnya dapat berjalan di udara, saya tidak akan menerimanya.” [9]

Alangkah indahnya ucapan seorang penyair:

ﺇِﺫَﺍ ﺭَﺃَﻳْﺖَ ﺷَﺨْﺼًﺎ ﻗَﺪْ ﻳَﻄِﻴْﺮُ ﻭَﻓَﻮْﻕَ ﻣَﺎﺀِ ﺍﻟْﺒَﺤْﺮِ ﻳَﺴِﻴْﺮُ
ﻭَﻟَﻢْ ﻳَﻘِﻒْ ﻋَﻠَﻰ ﺣُﺪُﻭْﺩِ ﺍﻟﺸَّﺮْﻉِ ﻓَﺈِﻧَّﻪُ ﻣُﺴْﺘَﺪْﺭَﺝٌ ﺑِﺪْﻋِﻲْ

Bila engkau lihat seorang dapat terbang
Dan berjalan di atas lautan
Padahal dia tidak menaati undang-undang syari’at
Maka ketahuilah bahwa dia adalah ahli bid’ah yang dimanjakan.

Jadi, sehebat apa pun kejadian luar biasa yang dipertontonkan para dukun tidak bisa dikatakan sebagai karomah dan pelakunya tidak bisa dikatakan sebagai wali Allah, sebab banyak perbedaan antara sihir dan perdukunan dengan karomah:

1. Sihir dan perdukunan terjadi dengan bantuan setan, sedangkan karomah biasanya adalah kebetulan.

2. Sihir dan perdukunan itu dilakukan orang fasik, sedangkan karomah dari orang shalih yang konsisten dalam beragama.

3. Sihir dan perdukunan melakukan pelanggaran-pelanggaran syari’at berupa kekufuran dan kejahatan, sedangkan karomah tidak mungkin demikian. [10]


Bahaya Dukun dan Perdukunan [11]


Barangkali ada sebagian kalangan yang bertanya-tanya, mengapa Islam begitu ‘keras’ dalam hal ini? Toh, para dukun tersebut hanya ingin berbuat baik kepada sesama, dengan memberdayakan ‘daya linuwih’ yang dimiliki. Lantas apa salahnya?

Sebelum menjawab kebimbangan di atas, satu hal yang seharusnya selalu diingat setiap insan, manakala Islam melarang suatu perbuatan, pasti perbuatan tersebut memuat kerusakan fatal atau mengakibatkan bahaya besar bagi pelakunya baik di dunia maupun akhirat walaupun—barangkali—perbuatan itu mengandung beberapa manfaat. Jika dicermati ulang dengan teliti, ternyata manfaat tadi bila dibandingkan dengan keburukan yang ditimbulkannya, jelas tidak ada apa-apanya.

Segala yang berbau perdukunan maupun praktik sihir memuat berbagai sisi negatif, di antaranya:

  • Pertama: Demi menjalankan aktivitasnya, para dukun melakukan ritual kesyirikan dan praktik kekufuran.
Seringkali para dukun dan tukang sihir bisa melakukan atraksi-atraksi ajaib yang mencengangkan. Orang yang beriman tidak akan mudah termakan karena ia tahu bahwa sejatinya mereka telah berkolaborasi dengan setan untuk melakukan atraksi tersebut.[12]

Sementara itu, setan tidak mungkin membantu para tukang sihir dalam hal itu, kecuali setelah mereka melakukan hal-hal yang bertentangan dengan syari’at, sebagai bentuk kompensasi bantuan tersebut. [13] Semakin kufur atau syirik perbuatan yang dipersembahkan, semakin besar bantuan yang diberikan setan. [14]

Kenyataan ini bukanlah isapan jempol belaka atau fitnah murahan, melainkan fenomena tersebut diakui oleh para mantan dukun yang telah bertaubat. Mereka bersaksi bahwa untuk menggapai ‘kesaktian’ yang dimiliki, mereka diharuskan untuk melakukan kesyirikan dan kekufuran.

Ada yang mengatakan bahwa mereka dahulunya memohon bantuan kepada Iblis, ada yang tidak menunaikan shalat lima waktu dan berpuasa Ramadhan, ada yang menempelkan lembaran-lembaran mushaf al-Qur‘an di tembok WC, dan berbagai tindak kekufuran lainnya.[15]

Adanya kolaborasi para dukun dengan setan telah dijelaskan para ulama Islam sejak dahulu kala. Sebagaimana dipaparkan antara lain oleh Imam Syafi’i (w. 204 H) [16] , al-Baidhawi (w. 685 H) [17] , dan Ibnu Hajar al-Asqalani (w. 852 H). [18]


  • Kedua: Tukang ramal dan paranormal telah menabrak salah satu prinsip dasar aqidah Islam, yakni keyakinan bahwa dzat yang mengetahui hal gaib hanyalah Allah Ta’ala.
Terlalu banyak fakta yang membuktikan bahwa para pelaku perdukunan telah mengklaim dirinya mengetahui hal-hal gaib. Salah satu contoh nyatanya, lihatlah apa yang bermunculan di media massa, elektronik maupun cetak, setiap datang penghujung tahun. Para dukun dan ‘spiritualis’ berlomba meramal kejadian tahun depan! Ini hanyalah satu contoh, dan masih banyak contoh lainnya yang senada. Bahkan ada pula yang berani meramal kapan datangnya hari Kiamat!

Padahal dalam al-Qur‘an, begitu gamblang dijelaskan bahwa pengetahuan tentang hal gaib hanyalah dimiliki Allah Tabaraka wa Ta’ala, Rabb semesta alam.

ﻗُﻞ ﻟَّﺎ ﻳَﻌْﻠَﻢُ ﻣَﻦ ﻓِﻰ ﭐﻟﺴَّﻤَـٰﻮَٰﺕِ ﻭَﭐﻟْﺄَﺭْﺽِ ﭐﻟْﻐَﻴْﺐَ ﺇِﻟَّﺎ ﭐﻟﻠَّﻪُ ۚ

Katakanlah (wahai Muhammad): “Tidak ada seorang pun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara gaib, kecuali Allah.” (QS an-Naml [27]: 65)

Dan masih banyak ayat lain serta hadits nabawi yang senada.

  • Ketiga: Pergi ke dukun dan paranormal membentuk mentalitas pemalas dalam diri seseorang.
“Pemikiran yang mistik mencerminkan mentalitas jalan pintas. Orang yang tidak mau kerja keras, tidak mau berencana, dan hanya mengharapkan solusi dengan cara gaib. Mistik membuat orang malas, tidak ulet, dan tidak bermental tangguh.” [19]

Islam menginginkan umatnya ulet, tangguh, rajin bekerja, bersungguh-sungguh dalam berusaha, serta tidak bergantung pada sesuatu yang fiktif dan terbuai dengan angan-angan kosong. Islam juga sangat membenci karakter pemalas. Karena itu, di antara do’a yang kerap dipanjatkan Rasul Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam adalah:

ﺍﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﺇِﻧِّﻲ ﺃَﻋُﻮﺫُ ﺑِﻚَ ﻣِﻦْ ﺍﻟْﻌَﺠْﺰِ ﻭَﺍﻟْﻜَﺴَﻞِ، ﻭَﺍﻟْﺠُﺒْﻦِ ﻭَﺍﻟْﻬَﺮَﻡِ، ﻭَﺃَﻋُﻮﺫُ ﺑِﻚَ ﻣِﻦْ ﻓِﺘْﻨَﺔِ ﺍﻟْﻤَﺤْﻴَﺎ ﻭَﺍﻟْﻤَﻤَﺎﺕِ، ﻭَﺃَﻋُﻮﺫُ ﺑِﻚَ ﻣِﻦْ ﻋَﺬَﺍﺏِ ﺍﻟْﻘَﺒْﺮِ

“Ya Allah, sungguh aku memohon perlindungan kepada-Mu dari ketidakberdayaan, kemalasan, sifat pengecut, dan lanjut usia. Aku memohon perlindungan-Mu dari fitnah kehidupan dan kematian. Serta aku memohon perlindungan-Mu dari adzab kubur.” (HR al-Bukhari dan Muslim dari Anas bin Malik Radhiallahu’anhu )


  • Keempat: Menjadi musuh dan selalu dicurigai masyarakat.
Dukun dan orang yang suka memakai jasanya akan selalu dicurigai dan dibenci oleh masyarakat umum. Terlebih lagi pada saat terjadi musibah yang menimpa seseorang dengan ciri-ciri yang tidak wajar, maka hal tersebut akan menimbulkan kecurigaan, dan seringkali tuduhannya diarahkan kepada para dukun dan orang yang menggunakan jasa dukun.

Akibatnya, sering kita jumpai sebagian masyarakat bertindak main hakim sendiri terhadap orang-orang yang dicurigai melakukan praktik perdukunan.

  • Kelima: Memotivasi orang untuk berbuat maksiat.
Cobalah renungkan dengan baik, bukankah orang tawuran agar menang meminta jimat dan ilmu kebal kepada dukun, wanita pelacur supaya laris meminta ilmu pengasihan kepada dukun, pencuri dan perampok agar lancar dalam menjalankan misinya diberi ajian sirep oleh dukun, dan bandar judi supaya lancar dan sukses bisnis terkutuknya datang kepada dukun, bahkan para dukun memberikan ramalan nomor togel kepada orang-orang awam.

  • Keenam: Perdukunan menzalimi orang lain.
Seringkali dukun menyakiti orang lain dengan santet, teluh, pelet, jengges , dan sejenisnya atau mengguna-gunai orang sehingga hidupnya hancur. Jelas ini adalah kezaliman yang tidak akan Allah biarkan begitu saja.

  • Ketujuh: Praktik perdukunan adalah usaha yang membinasakan pelakunya di dunia dan akhirat.
Hal ini sebagaimana ditegaskan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dalam haditsnya:

ﺍﺟْﺘَﻨِﺒُﻮﺍ ﺍﻟﺴَّﺒْﻊَ ﺍﻟْﻤُﻮﺑِﻘَﺎﺕِ ﻗَﺎﻟُﻮﺍ ﻳَﺎ ﺭَﺳُﻮﻝَ ﺍﻟﻠﻪِ ﻭَﻣَﺎ ﻫُﻦَّ ﻗَﺎﻝَ ﺍﻟﺸِّﺮْﻙُ ﺑِﺎﻟﻠﻪِ ﻭَﺍﻟﺴِّﺤْﺮُ ﻭَﻗَﺘْﻞُ ﺍﻟﻨَّﻔْﺲِ ﺍﻟَّﺘِﻲ ﺣَﺮَّﻡَ ﺍﻟﻠﻪُ ﺇِﻟَّﺎ ﺑِﺎﻟْﺤَﻖِّ ﻭَﺃَﻛْﻞُ ﺍﻟﺮِّﺑَﺎ ﻭَﺃَﻛْﻞُ ﻣَﺎﻝِ ﺍﻟْﻴَﺘِﻴﻢِ ﻭَﺍﻟﺘَّﻮَﻟِّﻲ ﻳَﻮْﻡَ ﺍﻟﺰَّﺣْﻒِ ﻭَﻗَﺬْﻑُ ﺍﻟْﻤُﺤْﺼَﻨَﺎﺕِ ﺍﻟْﻤُﺆْﻣِﻨَﺎﺕِ ﺍﻟْﻐَﺎﻓِﻠَﺎﺕِ

“Hindarilah tujuh perkara yang menghancurkan.” Mereka bertanya, “Apa itu wahai Rasulullah?” Beliau bersabda, “Syirik (menyekutukan Allah), sihir[20] , membunuh jiwa yang diharamkan Allah kecuali dengan cara yang haq, memakan harta riba, makan harta anak yatim, lari dari medan perang, dan menuduh zina wanita mukminah yang terjaga dari dosa dan tidak tahu menahu tentangnya.” (HR al-Bukhari: 2615 dan Muslim: 258)

  • Kedelapan: Dukun memperolok-olok agama Allah.
Di antara dukun ada yang menulis al Qur‘an dengan kotoran manusia atau darah haid, ada pula yang menjadikannya sebagai alas kaki ketika buang hajat, menduduki al-Qur‘an, atau menulis salah satu surat al-Qur‘an dengan cara terbalik seperti mantra yang dikenal dengan mantra Qulhu sungsang (surat al-Ikhlash dibaca secara terbalik).


Kalau orang yang mengolok-olok simbol Islam atau menghina ajaran al-Qur‘an masuk dalam kekufuran, maka bagaimana dengan dukun yang melakukan demo penghinaan dibiarkan dan tidak dianggap melakukan perbuatan kufur?!

 Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentulah mereka akan menjawab: “Sesungguhnya kami hanyalah bersenda gurau dan bermain-main saja.” Katakanlah: “Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya, dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?” Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu kafir sesudah beriman. Jika Kami memaafkan segolongan kamu (lantaran mereka taubat), niscaya Kami akan mengadzab golongan (yang lain) disebabkan mereka adalah orang-orang yang selalu berbuat dosa. (QS at-Taubah [9]: 65–66)

  • Kesembilan: Mendatangi dukun dan mempercayainya termasuk kekufuran terhadap apa yang diturunkan kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam .
Dalam sebuah hadits, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memberikan pernyataan:

ﻣَﻦْ ﺃَﺗَﻰ ﻛَﺎﻫِﻨًﺎ ﺃَﻭْ ﺳَﺎﺣِﺮﺍً ﻓَﺼَﺪَّﻗَﻪُ ﺑِﻤَﺎ ﻳَﻘُﻮْﻝُ؛ ﻓَﻘَﺪْ ﻛَﻔَﺮَ ﺑِﻤَﺎ ﺃُﻧْﺰِﻝَ ﻋَﻠَﻰ ﻣُﺤَﻤَّﺪٍ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ

“Barangsiapa mendatangi dukun atau tukang sihir lalu mempercayai apa yang dikatakannya, maka ia telah kufur terhadap apa yang diturunkan kepada Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam .” [21]

Hukum Mendatangi Dukun


Sungguh sangat disayangkan, banyak di antara umat Islam berbondong-bondong datang ke dukun untuk mengadukan berbagai macam masalah problem hidup mereka, padahal sejak empat belas abad lalu, panutan kita Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam telah mengingatkan dengan tegas:

ﻣَﻦْ ﺃَﺗَﻰ ﻋَﺮَّﺍﻓًﺎ ﻓَﺴَﺄَﻟَﻪُ ﻋَﻦْ ﺷَﻲْﺀٍ؛ ﻟَﻢْ ﺗُﻘْﺒَﻞْ ﻟَﻪُ ﺻَﻠَﺎﺓٌ ﺃَﺭْﺑَﻌِﻴﻦَ ﻟَﻴْﻠَﺔً

“Barangsiapa mendatangi peramal lalu ia bertanya tentang sesuatu kepadanya, maka shalatnya tidak diterima selama empat puluh malam.” (HR Muslim 4/1751 no. 2230 dari sebagian istri Rasul Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam )

Hadits lain memberikan pernyataan yang lebih keras lagi:

ﻣَﻦْ ﺃَﺗَﻰ ﻛَﺎﻫِﻨًﺎ ﺃَﻭْ ﺳَﺎﺣِﺮﺍً ﻓَﺼَﺪَّﻗَﻪُ ﺑِﻤَﺎ ﻳَﻘُﻮْﻝُ؛ ﻓَﻘَﺪْ ﻛَﻔَﺮَ ﺑِﻤَﺎ ﺃُﻧْﺰِﻝَ ﻋَﻠَﻰ ﻣُﺤَﻤَّﺪٍ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ

“Barangsiapa mendatangi dukun atau tukang sihir lalu mempercayai apa yang dikatakannya, maka ia telah kufur terhadap apa yang diturunkan kepada Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam .” [22]

Hadits-hadits di atas sangat jelas menunjukkan larangan perdukunan dan mendatangi serta membenarkan dukun, bahkan ancamannya sangat berat. Oleh karenanya, para ulama sepakat bahwa perdukunan dan sihir adalah haram dan dosa besar dengan kesepakatan ulama. Ibnu Qudamah Rahimahullahu Ta’ala mengatakan, “Mempelajari sihir dan mengajarkannya hukumnya haram. Kami tidak mendapati perselisihan pendapat di kalangan ulama.” [23] Hal senada juga disebutkan oleh Ibnu Hajar al-Asqalani. [24]

Syaikh Abdul Aziz bin Baz Rahimahullahu Ta’ala mengatakan, “Adapun mendatangi peramal, dukun, paranormal, dan sejenisnya dari orang-orang yang mengaku mengetahui hal gaib, maka hukumnya adalah haram dan merupakan kemungkaran yang tidak boleh. Membenarkannya lebih mungkar lagi bahkan termasuk cabang kekufuran.”

Kemudian beliau membawakan beberapa hadits di atas lalu kata beliau, “Hadits-hadits serupa banyak sekali. Maka wajib bagi kaum muslimin untuk waspada dan tidak bertanya kepada para dukun, peramal, dan sejenisnya yang menipu kaum muslimin, dengan nama apa pun baik dengan nama pengobatan alternatif atau lainnya dari nama-nama yang semu.” [25]

Imam Nawawi Rahimahullahu Ta’ala mengatakan, “Ketahuilah bahwa perdukunan dan mendatangi para dukun serta mempelajari perdukunan, meramal bintang, meramal dengan kerikil atau rambut, semua itu hukumnya haram dan mengambil upahnya haram berdasarkan nash yang shahih.” [26]

Berikut ini kami nukilkan Fatwa MUI (Majelis Ulama Indonesia) pusat berkenaan dengan permasalahan di atas, yang diputuskan pada Musyawarah Nasional MUI VII:

Fatwa tentang Perdukunan ( Kahânah ) dan Peramalan (’Irâfah )


1. Segala bentuk praktek perdukunan ( kahânah) dan peramalan (’irâfah ) hukumnya haram.

2. Mempublikasikan praktek perdukunan ( kahânah) dan peramalan (’irâfah ) dalam bentuk apa pun hukumnya haram.

3. Memanfaatkan, menggunakan dan/atau mempercayai segala praktik perdukunan ( kahânah) dan peramalan (’irâfah ) hukumnya haram. [27]

Fatwa telah diputuskan. Tinggal komitmen kita sebagai umat Islam di negeri ini mematuhi dan menaati keputusan yang dibuat forum tertinggi umat Islam di negeri ini. Jangan sampai keputusan komisi fatwa itu hilang maknanya, lantaran ketidakseriusan kita sendiri sebagai umat Islam untuk menyebarkan dan menerangkannya kepada masyarakat. [28]

Jihad Melawan Perdukunan


Merupakan tugas bagi setiap kita semua untuk bersama-sama berjuang membasmi segala praktek perdukunan, sihir dan apapun bentuknya karena merusak agama, harta, kesehatan dan akal.

Al-Qurthubi mengatakan: “Wajib bagi setiap orang yang mampu, baik dai atau lainnya untuk mengingkari orang yang melakukan perbuatan perdukunan di pasar dan mengingkari dengan keras terhadap siapa saja yang mendatangi dukun. Janganlah kita tertipu dengan berita mereka atau julukan mereka sebagai ahli ilmu. Sebab, sebenarnya mereka bukanlah ahli ilmu tetapi orang yang bodoh, karena mereka masih melakukan perbuatan terlarang.” [29]

Berikut beberapa langkah untuk jihad melawan perdukunan:

1. Menjelaskan bahaya sihir dan perdukunan terhadap aqidah serta ancaman bagi yang mendatangi para dukun.

2. Membongkar kedok para tukang sihir dan dukun serta menguak kebohongan dan penipuan mereka.

3. Memperkokoh ilmu syar’i serta menyebarkannya dengan berbagai sarana modern baik cetak maupun layar kaca, lewat lisan dan tulisan.

4. Mendukung kegiatan-kegiatan yang memperkokoh keimanan.

5. Peran para guru, ustadz, da’i, dan kiai dalam memberikan pencerahan kepada masyarakat tentang masalah ini.

6. Menyebarkan fatwa-fatwa majelis ulama yang resmi dan diakui seputar masalah ini, termasuk dalam hal ini fatwa MUI.

7. Memperkokoh aqidah dan tawakal yang kuat bahwa hanya Allah yang mengatur alam semesta dan mengetahui hal-hal gaib.

8. Menangkap dan menghukum para tukang sihir sehingga membuat mereka jera.

9. Memberikan nasihat dan teguran kepada media-media yang menayangkan atau mempromosikan sihir dan perdukunan. [30]

Perlu diketahui bahwa sihir dan perdukunan itu merebak pada zaman dan tempat yang penuh dengan kejahilan dan jauhnya manusia dari agama Allah, manakala manusia dalam kondisi sangat lemah aqidah dan imannya kepada Allah sehingga bergantung kepada para dukun dan tukang sihir.

Dari sini, kami menyeru kepada para ustadz, para juru dakwah, dan penuntut ilmu agama Islam: “Marilah kita bersama-sama menegakkan dakwah tauhid, memperkokoh tauhid yang murni di hati masyarakat sehingga mereka hanya bergantung dan meminta pertolongan kepada Allah semata serta membongkar kedok para dukun tersebut dan menyingkap kebohongan mereka. Sungguh ini adalah tanggung jawab yang ada di pundak setiap para dai di negeri ini.”

Dan kepada para pemerintah negeri ini, hendaknya mereka memburu dan menangkap para dukun yang merusak itu serta memberikan hukuman kepada mereka, tentunya setelah proses dan penyelidikan kebenaran bahwa mereka betul-betul melakukan kasus perdukunan tersebut.[31] Sungguh, hukuman bagi dukun dan tukang sihir dalam Islam sangat keras. [32]

Imam Ahmad Rahimahullahu Ta’ala berkata, “Telah shahih dari tiga sahabat Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tentang hukuman tukang sihir adalah dibunuh.” Dan ini adalah pendapat mayoritas ulama karena dia dianggap murtad dan kafir. [33] Dan jika sihirnya sampai derajat menewaskan korban maka tidak ada perselisihan di kalangan ulama bahwa dia dihukum mati ( qishash ) dan hukuman membuat murtad dan membuat kerusakan bagi ulama yang mengafirkan. [34]

Alangkah bagusnya ucapan Imam Ibnu Abil Izzi al-Hanafi Rahimahullahu Ta’ala , “Mereka yang melakukan perbuatan yang keluar dari al-Kitab dan Sunnah yang shahih bermacam-macam, di antara mereka adalah tukang pendusta dan penipu yang sebagian mereka menampakkan kepatuhan jin kepadanya, atau kalangan supernatural yang mengaku tahu kegaiban dari kalangan para penganut tarekat yang gemar menipu. Oleh karena itu, mereka berhak menerima hukuman berat yang membuat mereka dan orang-orang sejenisnya jera untuk melakukan manipulasi.

Bahkan di antara mereka sudah ada yang pantas dihukum mati seperti yang mengaku nabi dengan atraksi sulapnya yang penuh khurafat atau bertujuan mengubah syari’at.” [35]

Akhirnya, kita memohon kepada Allah agar mengokohkan aqidah dan iman kita serta menjauhkan kita semua dari kejahatan dan keburukan sihir dan perdukunan. Dan kita memohon kepada Allah agar memberikan petunjuk kepada para dukun untuk segera bertaubat, sebagaimana kita memohon kepada Allah agar memberikan kekuatan kepada pemimpin kita untuk memburu dan menghukum para dukun dengan seberat-beratnya sehingga membuat lainnya jera.


[1] “Perdukunan, No Way”, makalah Khutbah Jum’at Ustadz Abdullah Zaen, dimuat di Majalah kita Al Furqon edisi 116.
[2] Membongkar Dunia Klenik dan Perdukunan Berkedok Karomah hlm. 99–101 oleh Ustadz Zainal Abidin bin Syamsuddin. Tulisan kami ini banyak mengambil faedah dari buku tersebut dengan beberapa tambahan dari referensi lainnya. Kami sarankan kepada pembaca untuk menelaah buku beliau tersebut karena sangat penting dan bagus dalam masalah ini. Wallahu A’lam.
[3] Ma’alimu Sunan 3/501 oleh al-Khathabi
[4] Fathul Bari 10/243–244
[5] Lihat ash-Sharim al-Battar hlm. 77–78 karya Wahid Abdussalam Bali, Biladul Haramain wal Mauqif Sharim minas Sihri wa Saharah hlm. 23–25 oleh Dr. Abdullah bin Muhammad ath-Thayyar, as-Sihru Bainal Madhi wal Hadhir hlm. 95 oleh Dr. Muhammad bin Ibrahim al-Hamd, Fathul Haqqil Mubin hlm. 130–131 oleh Dr. Abdullah ath-Thayyar dan Sami al-Mubarak.
[6] Pembahasan lebih lanjut baca di buku Dukun Hitam Dukun Putih – Menguak Rahasia Kehebatan Sekutu Setan , karya Abu Umar Abdillah.
[7] Membongkar Dunia Klenik dan Perdukunan Berkedok Karomah hlm. 108–109 oleh Ustadz Zainal Abidin bin Syamsuddin
[8] Bughyatul Murtab hlm. 483 oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, Fitnah Dajjal hlm. 30 oleh Syaikh Abdurrahman as-Sa’di.
[9] Siyar A’lam Nubala‘ 3/3282 oleh adz-Dzahabi
[10] Lihat Fathul Bari 10/223 oleh Ibnu Hajar, al-Furqan Baina Auliya‘ ar-Rahman wa Auliya‘ asy-Syaithan hlm. 61–64 oleh Ibnu Taimiyyah, Karamatul Auliya‘ , Dirasah Aqadiyyah hlm. 237–245 oleh Dr. Abdullah bin Abdul Aziz al-’Anqari.
[11] Dinukil dari “Perdukunan, No Way”, makalah Khutbah Jum’at Ustadz Abdullah Zaen, dimuat di Majalah Al Furqon edisi 116 dan Membongkar Dunia Klenik dan Perdukunan Berkedok Karomah hlm. 139–148 oleh Ustadz Zainal Abidin bin Syamsuddin.
[12] Lihat Kitab an-Nubuwwat karya Ibnu Taimiyyah 2/830–831.
[13] Lihat al-Furqan Baina Auliya‘ ar-Rahman wa Auliya‘ asy-Syaithan karya Ibnu Taimiyyah hlm. 331–332.
[14] Lihat at-Tafsir al-Qayyim hlm. 581.
[15] Lihat Majalah Ghoib , edisi khusus “Dukun-dukun Bertaubat” (hlm. 12–14, 17, 19, 20, 22, 43), edisi 32 (hlm. 5), edisi 56 (hlm. 11), edisi 70 (hlm. 8).
[16] Lihat Tafsir al-Qurthubi 2/274.
[17] Lihat Tafsir al-Baidhawi hlm. 21.
[18] Lihat Fathul Bari 10/222.
[19] Perkataan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, sebagaimana dalam buku Harus Bisa – Seni Memimpin ala SBY karya Dr. Dino Patti Djalal hlm.127.
[20] Perdukunan masuk dalam kategori hukum sihir karena sama-sama mengabarkan hal yang samar bagi yang lain, mengaku ilmu gaib seperti tukang sihir, sama-sama khurafat dan bergantung kepada selain Allah. (Lihat as-Sihru Bainal Haqiqah wal Khayal hlm. 176 oleh Dr. Ahmad al-Hamd, as-Sihru Bainal Madhi wal Hadhir hlm. 12 oleh Dr. Muhammad bin Ibrahim al-Hamd.)
[21] HR al-Bazzar 5/315 no. 1931 dari Ibnu Mas’ud Radhiallahu’anhu dan sanadnya dinilai shahih oleh Ibnu Katsir dalam Tafsir -nya 1/393 dan al-Albani dalam Shahihul Jami’ 2/956
[22] HR al-Bazzar 5/315 no. 1931 dari Ibnu Mas’ud Radhiallahu’anhu dan sanadnya dinilai shahih oleh Ibnu Katsir dalam Tafsir -nya 1/393 dan al-Albani dalam Shahihul Jami’ 2/956
[23] Al-Mughni 8/151
[24] Fathul Bari 10/224
[25] Iqamatul Barahin ’ala Man Istaghatsa bi Ghairillahi Au Shaddaqa Kahanah wal Arrafin hlm. 34–35
[26] Raudhah Thalibin 9/346
[27] Himpunan Fatwa MUI hlm. 91, edisi ketiga 2010
[28] Majalah Ghoib edisi 66 hlm. 44
[29] Al-Jami’ li Ahkamil Qur‘an 2/44
[30] Dari seminar “Sihir dan Perdukunan Modern Gaya Baru” di Kuliah Syari’ah wa Ushuluddin di Universitas Qashim 17/5/1428 H, sebagaimana dalam as-Sihru Bainal Madhi wal Hadhir hlm. 96–97 oleh Dr. Muhammad bin Ibrahim al-Hamd.
[31] Lihat Syarh Aqidah ath-Thahawiyyah 2/763 oleh Ibnu Abil Izzi al-Hanafi, Biladul Haramain Syarifain wal Mauqif Sharim minas Sihri was Saharah hlm. 54–57 oleh Dr. Abdullah ath-Thayyar.
[32] Sungguh mengherankan sekali. Beberapa saat lalu ada Rancangan Undang-Undang tentang sihir dll., padahal di negeri ini telah subur dan banyak kasus sihir dan perdukunan yang telah meresahkan masyarakat sejak dahulu kala. Kenapa sampai sekarang belum ada Undang-Undang, padahal korban sudah banyak sekali?!!
[33] Tafsir al-Qur‘anil Azhim 1/144 oleh Ibnu Katsir
[34] Lihat secara lebih detail dalam as-Sihru Bainal Madhi wal Hadhir hlm. 29 oleh Dr. Muhammad bin Ibrahim al-Hamd.
[35] Syarh Aqidah ath-Thahawiyyah 2/763–764 oleh Ibnu Abil Izzi al-Hanafi

Sumber:
abiubaidah.com

Baca juga tulisan lainnya DISINI

Jumat, 30 September 2016

Jalan Kebenaran Hanya Satu


Jalan Kebenaran Hanya Satu


Oleh:
Ust. Sa’id Abu Ukasyah

Bismillah walhamdulillah wash shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du:

Hidup ini adalah sebuah perjalanan
Pernahkah kita memikirkan bahwa hidup ini hakekitnya adalah perjalanan? Pernahkah kita merenungkan hidup di dunia ini tidak lain adalah sebuah perjalanan menuju kepada Allah Ta`ala ?
Tidakkah Anda mengingat sabda Rasulullah Muhammad shalallahu alaihi wa sallam :

ﻛﻞّ ﺍﻟﻨﺎﺱِ ﻳﻐﺪﻭ؛ ﻓﺒﺎﺋﻊٌ ﻧَﻔﺴَﻪ ﻓﻤُﻌﺘِﻘﻬﺎ ﺃﻭ ﻣﻮﺑِﻘﻬﺎ

“Setiap hari semua orang melakukan perjalanan hidupnya, keluar mempertaruhkan dirinya! Ada yang membebaskan dirinya dan ada pula yang mencelakakannya!” (Hadits Riwayat Imam Muslim).

Oleh karena itu Allah dalam firman-Nya menjelaskan,

ﻳَﻮْﻡَ ﻟَﺎ ﻳَﻨْﻔَﻊُ ﻣَﺎﻝٌ ﻭَﻟَﺎ ﺑَﻨُﻮﻥَ

Pada hari dimana harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna,

ﺇِﻟَّﺎ ﻣَﻦْ ﺃَﺗَﻰ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﺑِﻘَﻠْﺐٍ ﺳَﻠِﻴﻢٍ

kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang selamat (Asy-Syu’araa`: 88-89).

Dan Allah Ta’ala berfirman pula:

ﻓَﻤَﻦْ ﻛَﺎﻥَ ﻳَﺮْﺟُﻮ ﻟِﻘَﺎﺀَ ﺭَﺑِّﻪِ ﻓَﻠْﻴَﻌْﻤَﻞْ ﻋَﻤَﻠًﺎ ﺻَﺎﻟِﺤًﺎ ﻭَﻟَﺎ ﻳُﺸْﺮِﻙْ ﺑِﻌِﺒَﺎﺩَﺓِ ﺭَﺑِّﻪِ ﺃَﺣَﺪًﺍ

“Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun dalam beribadat kepada Tuhannya” (Al-Kahfi: 110).

Memang demikianlah hidup ini, yang diharap dan yang dituju adalah Allah Ta’ala, berjumpa dengan-Nya, menghadap kepada-Nya dan melihat wajah-Nya serta untuk meraih ridha-Nya.

Jalan hidup yang benar hanya ada satu


Suatu saat Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkisah,

ﺧَﻂَّ ﻟَﻨَﺎ ﺭَﺳُﻮﻝُ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﺧَﻄًّﺎ ﺛُﻢَّ ﻗَﺎﻝَ ﻫَﺬَﺍ ﺳَﺒِﻴﻞُ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺛُﻢَّ ﺧَﻂَّ ﺧُﻄُﻮﻃًﺎ ﻋَﻦْ ﻳَﻤِﻴﻨِﻪِ ﻭَﻋَﻦْ ﺷِﻤَﺎﻟِﻪِ ﺛُﻢَّ ﻗَﺎﻝَ ﻫﺬﻩ ﺳﺒﻞ ﻭ ﻋَﻠَﻰ ﻛُﻞِّ ﺳَﺒِﻴﻞٍ ﻣِﻨْﻬَﺎ ﺷَﻴْﻄَﺎﻥٌ ﻳَﺪْﻋُﻮ ﺇِﻟَﻴْﻪِ ﺛُﻢَّ ﻗَﺮَﺃَ } ﻭَﺃَﻥَّ ﻫَﺬَﺍ ﺻِﺮَﺍﻃِﻲ ﻣُﺴْﺘَﻘِﻴﻤًﺎ ﻓَﺎﺗَّﺒِﻌُﻮﻩُ ﻭَﻻَﺗَﺘَّﺒِﻌُﻮﺍ ﺍﻟﺴُّﺒُﻞَ ﻓَﺘَﻔَﺮَّﻕَ ﺑِﻜُﻢْ ﻋَﻦْ ﺳَﺒِﻴﻠِﻪِ }

“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam membuat sebuah garis lurus bagi kami, lalu bersabda, ‘Ini adalah jalan Allah’, kemudian beliau membuat garis lain pada sisi kiri dan kanan garis tersebut, lalu bersabda, ‘Ini adalah jalan-jalan (yang banyak). Pada setiap jalan ada syetan yang mengajak kepada jalan itu,’ kemudian beliau membaca,

{ ﻭَﺃَﻥَّ ﻫَﺬَﺍ ﺻِﺮَﺍﻃِﻲ ﻣُﺴْﺘَﻘِﻴﻤًﺎ ﻓَﺎﺗَّﺒِﻌُﻮﻩُ ﻭَﻻَﺗَﺘَّﺒِﻌُﻮﺍ ﺍﻟﺴُّﺒُﻞَ ﻓَﺘَﻔَﺮَّﻕَ ﺑِﻜُﻢْ ﻋَﻦْ ﺳَﺒِﻴﻠِﻪِ }

‘Dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kalian dari jalan-Nya’” ([Al An’am: 153] Hadits shahih diriwayatkan oleh Ahmad dan yang lainnya)

Para imam tafsir menjelaskan bahwa pada ayat ini, Allah Tabaraka wa Ta’ala menggunakan bentuk jamak ketika menyebutkan jalan-jalan yang dilarang manusia mengikutinya, yaitu {ﺍﻟﺴُّﺒُﻞَ} , dalam rangka menerangkan cabang-cabang dan banyaknya jalan-jalan kesesatan. Sedangkan pada kata tentang jalan kebenaran, Allah Subhanahu wa Ta’ala menggunakan bentuk tunggal dalam ayat tersebut, yaitu { ﺳَﺒِﻴﻠِﻪِ}. karena memang jalan kebenaran itu hanya satu, dan tidak berbilang. (Sittu Duror, hal.52).

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Dan ini disebabkan, karena jalan yang mengantarkan (seseorang) kepada Allah hanyalah satu. Yaitu sesuatu yang dengannya, Allah mengutus para Rasul-Nya dan menurunkan kitab-kitab-Nya. Tiada seorangpun yang dapat sampai kepada-Nya, kecuali melalui jalan ini” (Sittu Duror, hal.53).

Mengenal jalan kebenaran yang satu


Jika Anda ingin tahu apa itu jalan kebenaran yang hanya ada satu tersebut? Jawabannya adalah jalan yang pernah ditempuh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam , itulah satu-satunya jalan yang bisa mengantarkan seorang hamba kepada Allah Azza wa Jalla . Imam Ibnul Qayyim rahimahullah pernah menjelaskan bahayanya tidak mengetahui jalan kebenaran ini, beliau mengatakan,

ﺍﻟﺠﻬﻞ ﺑﺎﻟﻄﺮﻳﻖ ﻭ ﺁﻓﺎﺗﻬﺎ ﻭ ﺍﻟﻤﻘﺼﻮﺩ ﻳﻮﺟﺐ ﺍﻟﺘﻌﺐ ﺍﻟﻜﺜﻴﺮ، ﻣﻊ ﺍﻟﻔﺎﺋﺪﺓ ﺍﻟﻘﻠﻴﻠﺔ

“Ketidaktahuan terhadap jalan kebenaran ini dan rintangan-rintangannya, serta tidak memahami maksud dan tujuannya, akan menghasilkan kepayahan yang sangat, disamping itu faedah yang didapatkanpun sedikit” (Sittu Duror, hal. 54).

Karena begitu pentingnya mengenal jalan kebenaran tersebut, maka mari kita mempelajari jalan kebenaran yang hanya ada satu itu, yang semua kaum muslimin mensepakatinya.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menjelaskan jalan yang lurus tersebut dalam sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam,

ﺗَﺮَﻛْﺖُ ﻓِﻴﻜُﻢْ ﻣَﺎ ﺇِﻥْ ﺗَﻤَﺴَّﻜْﺘُﻢْ ﺑِﻪِ ﻟَﻦْ ﺗَﻀِﻠُّﻮﺍ ﺑَﻌْﺪِﻱ ﺃَﺑَﺪًﺍ ﻛِﺘَﺎﺏَ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﻭَﺳُﻨَّﺘِﻲْ

“Aku tinggalkan untuk kalian sesuatu. Jika kalian berpegang teguh kepadanya, kalian tidak akan sesat selama-lamanya, yaitu Kitab Allah dan Sunnahku” (Diriwayatkan Imam Malik dan yang lainnya, dihasankan oleh Syaikh Al-Albani).

Ya, jalan kebenaran yang hanya satu itu adalah jalan Kitabullah dan sunnah Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam, keduanya adalah jalan yang lurus. Sebagaimana dijelaskan oleh Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu ,

ﺍﻟﺼِّﺮَﺍﻁُ ﺍﻟْﻤُﺴﺘَﻘـِﻴْﻢُ ﺍﻟَّﺬِﻱ ﺗَﺮَﻛَﻨَﺎ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﺭَﺳُﻮْﻝُ ﺍﻟﻠﻪِ

“Jalan yang lurus, yaitu jalan yang ditinggalkan Rasulullah untuk kami” (Atsar shahih, dikeluarkan Ath Thabari dan yang lainnya).

Mana dalilnya, bahwa Al-Quran dan As-Sunnah adalah jalan yang lurus?


Dalil Al-Quran adalah jalan yang lurus, Allah Ta’ala berfirman:


ﻗَﺎﻟُﻮﺍ ﻳَﺎ ﻗَﻮْﻣَﻨَﺎ ﺇِﻧَّﺎ ﺳَﻤِﻌْﻨَﺎ ﻛِﺘَﺎﺑًﺎ ﺃُﻧْﺰِﻝَ ﻣِﻦْ ﺑَﻌْﺪِ ﻣُﻮﺳَﻰٰ ﻣُﺼَﺪِّﻗًﺎ ﻟِﻤَﺎ ﺑَﻴْﻦَ ﻳَﺪَﻳْﻪِ ﻳَﻬْﺪِﻱ ﺇِﻟَﻰ ﺍﻟْﺤَﻖِّ ﻭَﺇِﻟَﻰٰ ﻃَﺮِﻳﻖٍ ﻣُﺴْﺘَﻘِﻴﻢٍ

“Mereka berkata: “Hai kaum kami, sesungguhnya kami telah mendengarkan Kitab (Al-Quran) yang telah diturunkan sesudah Musa yang membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya lagi memimpin kepada kebenaran dan kepada jalan yang lurus” (Al-Ahqaaf: 30).


Dalil As-Sunnah adalah jalan yang lurus, Allah Ta’ala berfirman:


ﻭَﺇِﻧَّﻚَ ﻟَﺘَﻬْﺪِﻱ ﺇِﻟَﻰٰ ﺻِﺮَﺍﻁٍ ﻣُﺴْﺘَﻘِﻴﻢٍ

“Dan sesungguhnya kamu benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus” (Asy-Syuuraa: 52).

Dengan demikian Al-Quran dan As-Sunnah adalah jalan yang lurus, inilah satu-satunya jalan kebenaran, keduanya hakikatnya adalah satu kesatuan, sama-sama wahyu Allah Ta’ala.

Wajibnya berpegang teguh dengan Al-Quran dan As-Sunnah


Kita wajib berpegang teguh dengan Al-Quran dan As-Sunnah, karena kita diwajibkan mena’ati Allah dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam , dalilnya adalah firman Allah Ta’ala:

ﻳَﺎ ﺃَﻳُّﻬَﺎ ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﺁﻣَﻨُﻮﺍ ﺃَﻃِﻴﻌُﻮﺍ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﻭَﺃَﻃِﻴﻌُﻮﺍ ﺍﻟﺮَّﺳُﻮﻝَ ﻭَﺃُﻭﻟِﻲ ﺍﻟْﺄَﻣْﺮِ ﻣِﻨْﻜُﻢْ

“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (-Nya), dan Ulil amri di antara kamu”. (An-Nisaa’: 59).

Menaati Allah adalah dengan berpegang teguh kepada Al-Quran dan taat kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan berpegang teguh kepada sunnah beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Catatan:
Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah sumber hukum Islam. Al-Hadits adalah hujjah/dalil, sebagaimana Al-Quran, karena keduanya adalah sama-sama wahyu dari Allah.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

ﺃﻻ ﺇﻧﻲ ﺃﻭﺗﻴﺖ ﺍﻟﻘﺮﺁﻥ ﻭﻣﺜﻠﻪ ﻣﻌﻪ

“Ketahuilah sesungguhnya saya diberi (wahyu) Al-Quran dan (wahyu) yang semisalnya bersamaan dengannya (As-Sunnah)” (HR. Abu Dawud dan Ahmad, sedangkan lafadz ini adalah lafadz riwayat beliau. Hadits ini dishahihkan Syaikh Al-Albani).

Hakikatnya berpegang teguh dengan sunnah adalah ketaatan kepada Allah dan mengamalkan Al-Quran, karena Allah berfirman di dalam Al-Quran:

ﻣَﻦْ ﻳُﻄِﻊِ ﺍﻟﺮَّﺳُﻮﻝَ ﻓَﻘَﺪْ ﺃَﻃَﺎﻉَ ﺍﻟﻠَّﻪَ

“Barangsiapa yang mentaati Rasul itu,sesungguhnya ia telah mentaati Allah” [An-Nisaa`:80].

Fungsi As-Sunnah


Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam hakikatnya sama dengan Kitab Allah, yaitu sama-sama sebagai wahyu Allah. Fungsi sunnah itu sebagai penjelas bagi Kitab Allah ‘Azza wa Jalla . Bahkan, makhluk terbaik yang menafsirkan Al-Quran adalah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam , sebagaimana firman Allah Azza wa Jalla .

ﻭَﺃَﻧﺰَﻟْﻨَﺂ ﺇِﻟَﻴْﻚَ ﺍﻟﺬِّﻛْﺮَ ﻟِﺘُﺒَﻴِّﻦَ ﻟِﻠﻨَّﺎﺱِ ﻣَﺎﻧُﺰِّﻝَ ﺇِﻟَﻴْﻬِﻢْ

“Dan Kami turunkan kepadamu Aquran, agar kamu menerangkan kepada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka” (An Nahl: 44).

As-Sunnah menjelaskan apa yang ada di dalam Al-Quran yang masih global dengan merincinya, seperti masalah salat, puasa, zakat, haji, dan yang lainnya. Jadi As-Sunnah yang shahih tidak akan pernah bertentangan dengan Al-Quran. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan makna Al-Quran dan beliau pun telah memberi contoh bagaimana mengamalkannya, sehingga semua ayat Al-Quran menjadi jelas makna dan prakteknya bagi umat ini.

Bahkan seorang muslim tidak harus menunggu mengetahui dalil dari Al-Quran dalam melakukan sebuah ibadah, jika ia sudah mengetahui satu saja dalil dari hadits yang shahih, selama hadits tersebut sudah cukup menunjukkan kepada suatu bentuk/tata cara ibadah, maka bisa langsung mengamalkan hadits tersebut.

Kesimpulan


  1. Jalan kebenaran hanya satu, yaitu jalan Al-Quran dan As-Sunnah. Karena keduanya sama-sama dari Allah dan fungsi As-Sunnah menjelaskan Al-Quran dan merinci yang global darinya, maka hakikat keduanya merupakan satu kesatuan, satu jalan kebenaran.
  2. Al-Quran dan As-Sunnah adalah jalan yang lurus.
  3. Kita wajib berpegang teguh dengan Al-Quran dan As-Sunnah.
  4. Al-Quran dan As-Sunnah sama-sama sebagai sumber hukum Islam, karena keduanya sama-sama sebagai wahyu Allah.

***

(Diolah dari kitab Sittu Durar min Ushul Ahlil Atsar, Syaikh Ar-Ramadhani, dengan beberapa tambahan).

Sumber:
https://muslim.or.id/25459-jalan-kebenaran-hanya-satu-1.html

[facebook]

[facebook][blogger]

Disqus Shortname

Admin

Slideshow

Diberdayakan oleh Blogger.